Showing posts with label Senin Paskah III. Show all posts
Showing posts with label Senin Paskah III. Show all posts

Friday, May 8, 2020

4 Mei 2020 Senin Paskah III


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Harian Senin Paskah III 4 Mei 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus 
Wisma Keuskupan Bandung




Bacaan I Kis 11:1-18
Mazmur Tanggapan Mzm 42:2-3.43:3.4
Bacaan Injil Yoh 10:11-18


Saudara saudari yang terkasih,
menuntut orang lain untuk berkata dan berbuat seperti yang kita kehendaki adalah lebih mudah, daripada menuntut diri sendiri agar perkataan dan perbuatan kita sesuai dengan apa yang diharapan org lain. Jangankan kepada bawahan, anak  atau murid, kadang kepada atasan yang memimpin, yang dituakan pun kita sadar tak sadar meminta begini dan begitu, sepertinya kitalah yang berhak menuntun dan menuntut. Kadang sadar dan tak sadar juga kecenderungan ini mempengaruhi relasi kita dengan Allah. Kita mungkin mendikte Allah juga untuk berbuat seperti apa yang kita inginkan, hingga diberitahu kita tak mau, dilarang tak senang, walau demi keselamatan dan kebaikan kita.

Ada suatu ilustrasi : di suatu peternakan domba ada anak domba yang nakal, selalu kabur melalui lubang kecil. Sang gembala ditanya. “mengapa lubang itu tidak ditutup, supaya anak domba itu tidak kabur lagi?” Ia menjawab, “biarlah, kalau ia kabur saya cari dan saya akan segera bawa pulang”. Anak domba yang sama suka kabur pada suatu saat tersesat, ia terdengar suara mengembik dari jauh. Gembala yang baik mengenal domba itu, sekalipun suaranya samar-samar. Ah! ini anak domba dan dicarilah. Ternyata ia ada di bawah, sulit naik dan tidak bisa pulang. Gembala itu membawa dan memanggulnya dengan penuh sukacita, dimasukkan ke dalam kandang, dan senang bertemu dengan teman-temannya. Domba ini memang suka makan makanan lain, rumput lain, padahal rumput di kandangnya itu, yang disediakan gembala, jauh lebih bagus. Pada suatu hari, domba itu kabur lagi dan terdengar suara mengembik lagi. Dan gembala segera lari mencari, karena ia tahu ini anak domba, itu pasti ada di luar dan ternyata betul, anak domba sedang dikejar-kejar oleh anjing dan segera ia selamatkan dan ia segera kembalikan. Anak domba itu berdebar-debar dengan sangat kuat, dibawa oleh gembala itu dipanggul dan dimasukkan lagi ke dalam kandang.
Keesokan harinya anak domba itu tidak pergi kemana-mana, lubang tidak ditutup, karena dia sudah tahu bahwa ternyata keluar dari lubang itu berarti keluar dari kandang melalui lubang sangat berbahaya bagi hidupnya. Ia makin tahu bahwa begitu besar kasih gembala itu kepada domba-dombanya.

Saudara saudari yang terkasih,
saat menyatakan diri sebagai gembala yang baik, yang mengenal domba-dombaNya, Yesus juga mengajar kita tentang menjadi domba yang baik yang mengenal suaranya. Kita sudah banyak mendengar jadilah gembala yang baik, tapi apakah kita juga sering mendengar jadilah domba yang baik? Mengenal secara biblis bisa berarti mempunyai hubungan personal yang dekat dan akrab, bahkan karena dekatnya, rela menyangkal diri, keinginan dan kesenangannya, sehingga terbuka untuk mendengarkan arahan dan mengikuti ajakanNya. Yesus mengajak kita domba yang dekat dan akrab dengan diriNya, Sang Gembala. Domba yang baik tak asing dengan suara gembala, ia mendengar suara gembala dan mengikutiNya. AnjuranNya diikuti dan ditaati, sabdaNya diyakini dan dihidupi, kasihNya dialami dan disyukuri. Domba yang baik hanya percaya pada gembala, ia tak mau mendengarkan suara lain, tak tergoda lagu merdu, untaian kata, yang terdengar ramah ataupun ramai, serta tampak sapaan personal atau gaul, tapi bisa membawa malapetaka karena bukan berasal dari suara gembala. Ia tak sudi mengecewakan gembala walau ada godaan, lubang-lubang kesempatan tetapi menyesatkan. Domba yang baik tak akan kabur meninggalkan kawanan domba, atau mampir ke sana ke mari, jajan ke sana kemari, tetapi tetap berada dalam komunitas yang dibangun Sang Gembala yang baik, karena percaya di  dalam kawanan yang dilindungi, dihidupi oleh Gembala, mereka akan damai sejahtera seperti dilukiskan di dalam mazmur 23, ada padang rumput yang hijau, terjamin seluruh hidupnya.

Saudara saudari yang terkasih,
kemarin kita diajak merenungkan menjadi gembala yang baik, setiap orang adalah gembala. Hari ini kita diundang untuk merenungkan, bagaimana kita menjadi domba yang baik yang mengenal gembalanya Terutama diperlihatkan dengan adanya kedekatan spiritual, kesatuan dan kesepadanan dengan apa yang menjadi keprihatinan Gembala kita, yang sehati dan sejiwa, seperasaan dan sepikir dengan gembala kita. Apakah kita sungguh mengenal mendengarkan suaranya? Mungkin sebelum mengenal, apakah kita kenal Imam kita, Romo kita? Tahu mukanya, tapi siapa namanya? Tahu panggilannya, tapi tidak tahu nama lengkapnya. Pernah terjadi baru-baru ini seorang anak aktivis di Keuskupan hendak memasang poster Pastor Parokinya untuk suatu acara. Lalu ia kurang yakin, apakah ini betul Pastor Paroki. Ia bertanya pada ibunya, “Mah, apakah ini betul nama pastor paroki ini?” Ia sebutkan nama lengkapnya sesuai dengan poster yang akan dipasang. Lalu kata ibunya, “bukan ini namanya Pastor … (panggilannya disebutkan)”. “Lho … oh berarti salah”. Ternyata saudara saudari, Pastor yang sama dikenal orang nama panggilannya, tapi nama lengkapnya tidak tahu. Bahkan ada orang yang tidak kenal wajahnya. Sejauh mana kita kenal dengan gembala kita juga?

Saudara saudari yang terkasih,
domba yang mendengarkan gembala, yang mengikuti gembala, yang dekat dengan gembala itulah domba yang berbau gembala. Relasi spiritual ini diperlihatkan melalui kesiapan dan kerelaan dengan sukacita mendengarkan dan mengikut ajaran dan anjuran gereja lewat para gembalanya.
Ada sepuluh perintah Allah, kita sudah tahu dan kita sudah hapal. Ada juga yang disebut dengan lima perintah Gereja. Apakah kita tahu? Apakah kita melaksanakannya? Jangankan melaksanakannya, hapalpun tidak. Jangankan hapal, dengarpun baru sekarang. Ada lima, saya sebutkan :

  1. Rayakanlah Hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu.
  2. Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Raya yang diwajibkan dan jangan melakukan perbuatan yang dilarang pada hari itu.
  3. Berpuasa dan berpantanglah pada hari yang ditentukan
  4. Mengaku dosalah sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun
  5. Menyambut tubuh pada masa paskah
Itu lima perintah gereja. Maka sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja yang merupakan ungkapan kasih kepada Allah dan kepada sesama, seperti kepada diri sendiri yang adalah Sabda Sang Gembala Utama Yesus. Apakah itu sudah dipahami dan dijalankan? Bagaimana mungkin dipahami dan dijalankan? Hapalpun tidak. Bagaimana mungkin hapal? Tahu pun tidak. Bagaimana mungkin tahu? Dengarpun kadang-kadang atau baru sekarang ini.

Saudara saudari yang terkasih,
kedekatan spiritual yang dihidupi dengan para gembala kita, pertama-tama diperlihatkan oleh domba yang baik dengan cara mendoakan gembala setiap hari dan mendukung panggilan gembala, seperti para gembalapun mendoakan dombanya setiap hari.

27 April 2020 Senin Paskah III


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Harian Senin Paskah III 27 April 2020
Kapel Maria Bunda Yesus Wisma Keuskupan 



Bacaan I Kis 6:8-15
Mazmur Tanggapan Mzm 119:23-24.26-27.29-30
Bacaan Injil Yoh 6:22-29


Saudara saudari yang terkasih,
kesuksesan kehidupan jaman now sering diukur dengan kesibukan seseorang, yang diperlihatkan oleh saratnya agenda, banyaknya aktivitas dan padatnya perjalanan, bukan hanya luar kota tetapi juga luar negeri. Akibatnya penghargaan terhadap orang yang bekerja di rumah atau duduk diam membaca serta berdoa pun menjadi kurang. Orang tergoda untuk selalu beranjak dari tempat duduk, pergi dari rumah tinggal, melancong berpindah-pindah tanpa fokus dan komitmen yang utuh. Situasi ini membentuk mentalitas dan spiritualitas nomaden, berubah-ubah, berpindah-pindah hingga tak ada lagi fokus tertentu dalam hidup. Mana yang paling penting dan apa yang sungguh menyelamatkan.

Ada anekdot, seorang kutubuku dianjurkan oleh sahabat dan kerabatnya untuk berlibur menikmati keindahan alam yang luar biasa, Ia menolak karena lebih suka membaca. Ia berkata, “buku adalah sumber kehidupan. Segala ilmu ada dalam buku. Tanpa ilmu kita mati”. Tetapi karena didesak terus, akhirnya ia pergi. Apalagi teman-temannya berkata, “ayo pergi sana! Rekreasi! Nikmati alam! Daripada kamu jadi autis!”
Akhirnya ia pergi, dan ia memilih pergi ke pantai. Di pantai ia menyewa perahu yang membawanya ke taman laut. Tetapi dalam perjalanan menuju taman laut, apa yg dilakukan? Ia membaca buku! Ia tidak menikmati alam, sehingga orang yang mengantarnya itu greget dan berkata, “pak, mengapa tidak menikmati alam? Mengapa membaca buku di dalam perahu? Bukankah membaca buku bisa di rumah?”
Lalu ia menjawab, “saudara, buku ini penting, sumber ilmu dan lewat buku saudara tahu situasi politik. Saudara tahu tidak?”
“Mana mungkin saya tahu”, kata nelayan yang mengantar.
“Maka habislah seperempat hidupmu tanpa tahu politik. Saudara tahu tentang matematik?”
“Tidak tahu”.
“ habis!”
“Saya hanya bisa menghitung uang”.
“Habis! Kalau tidak tahu matematik, seperempat hidupmu habis. Saudara tahu tentang sejarah, kehidupan sosial?”
“Tidak tahu”.
“Ada dalam buku. Tanpa tahu, habis seperempat hidupmu!”
Akhirnya nelayan itu diam, dan Bapak itu terus membaca buku. Sesampai di tengah, tiba-tiba cuaca berubah. Ada badai. Lalu mulailah mendung dan Bapak itu mulai panik. Nelayan berkata, “apakah Bapak belajar berenang?”
“Tidak!”
“Habis seluruh hidupmu!” lalu nelayan itu pun berenang

Saudara saudari yang terkasih,
setiap orang mempunyai prioritas. Dan prioritas itu lain, di satu tempat di tempat lain, orang tertentu dengan orang lain, berbeda satu sama lain. Demikian juga untuk menjadi murid Yesus ada prioritas. Yesus menyadarkan para muridNya untuk mencari apa yang menjadi prioritas. Untuk mencari apa yang paling penting dalam hidup. Roti dan makanan adalah penting. Tetapi janganlah hidup untuk mencari makanan, tetapi makanlah untuk hidup. Agar dapat menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Yesus menyayangkan motivasi mereka yang mengikutiNya, bukan karena melihat tanda-tanda ajaib sehingga percaya kepada Yesus, bahwa Ia adalah Putra Allah. Yang karena cinta Allah pada manusia diutus ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Maka kata Yesus, “bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada kehidupan yang kekal. Yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu”.

Saudara saudari yang terkasih,
Stefanus adalah pengikut Kristus yang tahu mana prioritasnya sebagai pengikut Kristus. Ia tahu apa yang paling penting sebagai Pelayan dan Rasul. Ia hidup dalam Roh Kudus. Ia hidup dalam doa. Ia melakukan karya yang dahulu dilakukan oleh Yesus. Ia mengajar para pendengarnya, akan apa yang paling penting, yaitu bertobat dan percaya kepada Yesus. Tetapi ia ditolak, sekalipun resiko hidupnya melayan, tapi ia tetap melaksanakan apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya, sehingga ia mengalami rahmat, wajahnya pun seperti malaikat.

Saudara saudari yang terkasih,
dalam 24 jam sehari, kesibukan apa yang paling banyak kita lakukan? Duduk. Apakah kesibukan tersebut mengantar kita kepada apa yang sungguh kita kejar, kebahagiaan, kedamaian, sukacita? Jangan sampai kita bekerja keras dan bergaul luas, tetapi tak mengalami sesuatu yang berarti, yang sungguh kita cari. Tetapi tak mengalami apa yang sungguh kita rindukan. Malah mengalami diri sepi sendiri, sekalipun ada dalam kerumunan, ada dalam kebersamaan dengan orang banyak. Itulah orang yang sibuk dengan pekerjaan dan mabuk dengan pergaulan, tetapi tanpa berakar pada relasi Tuhan yang kekal dan tak berubah. Kesibukan apa yang sekarang kita lakukan pada masa pandemik ini? Apa yang sesungguhnya kita cari? Yang paling menyelamatkan. Yang menjadi prioritas dalam hidup kita, bukan sekedar menyenangkan tetapi sungguh menyelamatkan. Saat berada dan bekerja dari rumah adalah kesempatan rahmat untuk merenungkan lagi, apa yang paling penting bagi hidup kita, yang tanpanya habislah hidup kita.

5 Juli 2020 Minggu Pekan Biasa XIV

Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC Misa Hari Minggu Biasa XIV 5 Juli 2020 Gereja Santo Petrus Katedral Bandung video :  Min...