Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin,
OSC
Misa Harian Rabu Prapaskah V 1 April 2020
Gereja Santo Paulus Mochamad Toha Bandung
Bacaan I Dan 3:14-20.24-25.28
Mazmur Tanggapan Dan 3:52.53.54.55.56
Bacaan Injil Yoh 8:31-42
Saudara saudari yang terkasih,
setiap orang mendapat pendidikan nilai. Entah
melalui sekolah, keluarga, agama dan masyarakat. Dari situ kita tahu ada
keutamaan yang membentuk hidup kita menjadi manusia yang baik yang bermartabat.
Faktanya orang dari pendidikan, lingkungan bahkan dari keluarga yang sama bisa
berbeda sifat, karakter keutamaannya. Ini tergantung sejauh mana orang
melakukan apa yang disebut dengan proses internalisasi yaitu pembatinan
nilai-nilai yang dipelajarinya dan proses eksternalisasi yaitu perwujudan,
praktek nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal-hal
sederhana sejak dini. Orang yang
berhasil melakukan proses internalisasi, pembatinan tadi, dan eksternalisasi, mewujudkan
nilai-nilai luhur tersebut tak akan mudah goyah menghadapi tantangan dan
godaan.
Saudara saudari yang terkasih,
Sadrakh, Mesakh dan Abednego ditantang
oleh raja Nebukadnesar untuk menyembah berhala sebab jika tidak mau, mereka
akan dimasukkan ke dalam tanur api. Ketiga orang saleh itu memegang teguh nilai
yang diajarkan leluhur mereka. Mereka hanya percaya dan menyembah Allah. Mereka
menolak perintah raja dan rela kehilangan nyawa. Mereka yakin hanya Allah
sajalah yang boleh disembah. Kalau Allah berkehendak menyelamatkan hidup mereka
Allah berkuasa. Tetapi seandainya Allah tidak berkehendak demikian mereka tetap
yakin akan belas kasih Allah hingga merekapun tidak mau meninggalkan Allah dan
tetap percaya kepada Allah. Lebih baik mati setia daripada hidup bercela
meninggalkan Allah.
Ternyata Allah menyelamatkan mereka,
hingga mereka tidak terbakar dalam api bernyala-nyala malah berjalan-jalan
memuji Allah. Raja Nebukadnezar yang menyaksikan itu mungkin tetap tidak
percaya pada Allah, tetapi menghargai dan memuji Allah Sadrakh, Mesakh dan
Abednego. Itulah buah dari internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai luhur.
Saudara saudari yang terkasih,
Yesus berhadapan dengan orang-orang yang mengaku mempunyai nilai-nilai
luhur sebagai keturunan Abraham, tetapi tidak hidup sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
Mereka tidak percaya kepada Yesus. Bahkan mereka berusaha untuk membunuh Yesus.
Maka Yesus mengingatkan mereka seakan bertanya, “nilai apa yang kalian peroleh
dan apa yang kalian praktekkan sekarang ini? Jikalau sekiranya kamu adalah anak-anak
Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan Abraham. Abraham
kita kenal sebagai Bapa Kaum Beriman yang taat penuh iman dan mendengarkan Allah.
Sementara itu mereka yang mengaku anak Abraham, tak menghidupi keutamaan-keutamaan
yang dijalankan, yang dipraktekkan, yang dihayati oleh Abraham sendiri.
Saudara saudari yang terkasih,
karena pembaptisan kita mendapat karunia
martabat Anak Allah. Karena mengikuti Kristus kita disebut Kristen. Karena
percaya akan Gereja Katolik yang satu kudus dan apostolik, kita disebut orang Katolik.
Semua sebutan mengandung nilai-nilai luhur yang harus kita pahami, batinkan dan
kita praktekkan, agar nama Kristen atau Katolik bukanlah sekedar sebutan,
tetapi sungguh menjadi ciri keutamaan hidup kongkrit kita. Dari cara hidup
itulah kita dikenal sebagai murid-murid Tuhan yang setia. Juga di kala ada
gangguan, godaan, kesulitan juga teristimewa di saat-saat ini.
Kalau ada orang Katolik yang gigih,
teguh imannya, jujur, murah hati, penuh belas kasih, saling mengasihi satu sama
lain, saya kira itu biasa karena nilai-nilai itulah yang diajarkan Tuhan. Nilai-nilai
itulah yang ditanamkan kepada kita, sejak awal dan coba kita praktekkan sejak
dini. Justru menjadi luar biasa jika ada orang-orang Katolik yang tidak
mempraktekkan nilai-nilai tersebut.
Kata Yesus di dalam Yohanes 13:35 “Dengan
demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau
kamu saling mengasihi”. Mari kita
tunjukkan identitas siapakah kita, bukan dengan identitas yang melekat tapi
dengan aktivitas yang memikat karena selalu membawa berkat.
No comments:
Post a Comment