Saturday, May 23, 2020

23 Mei 2020 Sabtu Paskah VI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Sabtu Paskah VI 23 Mei 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I Kis 18:23-28
Mazmur Tanggapan Mzm 47:2-3.8-9.10
Bacaan Injil Yoh 16:23b-28

Saudara saudari yang terkasih,
kalau kita berdoa meminta sesuatu kepada Allah, apa yang sebenarnya kita minta?

Ada dongeng, tiga sahabat menemukan guci di hutan. Saat dibuka keluarlah peri dan berkata kepada ketiga orang itu,
“mintalah satu permohonan dan saya akan memberikannya!”
Orang pertama meminta, “jadikanlah aku raja yang berkuasa!”
Dengan sekejap, dengan gerakan tangan, pergilah ia dari dua orang teman lainnya itu dan menjadi raja yang berkuasa di suatu tempat. Yang kedua berkata,
“saya ingin menikahi putri yang cantik dan kaya!”
Dengan gerakan tangan, lenyaplah ia pindah ke suatu kerajaan lain. Yang ketiga terdiam, memikirkan apa yang diminta, tapi ia mulai merasa kesepian dan ia kehilangan dua sahabatnya. Karena dipaksa minta sesuatu, akhirnya ia berkata,
“saya minta supaya kedua sahabat itu dikembalikan lagi ke hutan bersama saya!”
Dan kembalilah mereka.

Saudara saudari yang terkasih,
dalam 2 Tawarikh 1:1-17, saat ditawari Allah, Salomo meminta hikmat dan pengertian, yang melampaui kekayaan. Salomo padahal diminta, “minta apa saja, maka akan Kuberikan!” Ia meminta hikmat. Salomo dikenal sebagai raja bijaksana bukan karena kekuasaan dan kekayaannya, walaupun ia sungguh kaya dan sangat berkuasa. Orang berhikmat mengarahkan hati dan budinya kepada Allah, yang adalah Sang Hikmat dan Sumber Kebijaksanaan. Roh Hikmat, Karunia Kebijaksanaan membuat kita mampu melihat kenyataan hidup insani sehari-hari dengan mata Ilahi. Dengan karunia Roh ini kita dimampukan untuk memaknai segala sesuatu yang kita alami dengan relasi kita dengan Allah. Dengan begitu kita menghadapi kenyataan, dengan iman pada Allah yang tentunya akan melahirkan komitmen untuk selalu memikirkan apa yang dipikirkan Allah dan melaksanakan apa yang dikehendaki Allah. Orang yang dipenuhi dengan Roh Kebijaksanaan akan mampu menilai dengan benar, apa yang Tuhan kehendaki. Orang ini akan tertarik pada hal-hal Surgawi yang menyelamatkan, dan menggunakan hal-hal duniawi yang diciptakan Allah dengan baik juga, untuk memenuhi segala sesuatu yang Allah kehendaki. Kebijaksanaan dikaitkan dengan orangtua yang telah makan asam dan garam, hingga tahu mana yang baik dan buruk, bisa membedakan mana yang benar dan salah. Bukan sekedar bisa membedakan, tetapi ia juga mau dan mampu menghidupinya dengan konsisten dan konsekwen.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus menegaskan bahwa para murid akan menjadi orang-orang yang dipenuhi Roh Kebijaksanaan. Mereka akan meminta apa yang mereka inginkan, tetapi mereka akan memohon apa yang berkenan kepada Allah saja, hingga segala permintaannya akan dikabulkan Allah karena sesuai dengan kehendak Allah. Mereka menjadi orang-orang bijak yang memahami dan mencintai segala sesuatu yang berbau Ilahi dan bernuansa surgawi, hingga mereka bisa lepas bebas terhadap hal-hal duniawi yang hanya akan disentuh dan dibutuhkan kalau membantu mereka untuk makin menjadi manusia bijaksana di hadapan Allah.

Saudara saudari yang terkasih,
apakah doa kita selalu dikabulkan?
Adakah doa yang tidak dikabulkan?
Apakah kita berdoa sebagai orang yang dicurahi Roh Kebijaksanaan ataukah sebagai orang yang dikuasai nafsu dan naluri?
Maka kalau orangtua diminta oleh anak-anak sesuatu yang berkenan dan berguna, serta orangtua bisa memberikan, orangtua memberikan. Kalau anak-anak meminta sesuatu yang tidak berkenan bagi orangtua, walaupun orangtua mempunyainya, orangtua tidak akan memberikannya. Yakobus menulis dalam Yakobus 1:5, “apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah”. Dan pada Yakobus 4, Yakobus berkata, ‘kamu meminta sesuatu, dan kamu tidak dikabulkan karena kamu tidak berdoa’ dan pada yakobus 4:3 “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”.
Maka saudara saudari, kalau berdoa, mintalah sesuatu yang menyenangkan Allah, yang lahir dari Roh Kebijaksanaan, yang membuat kita menghargai sesuatu, mencintai dan mengutamakan cita-cita surgawi, sehingga doa kita dikabulkan Allah. Roh Hikmat membuat kita makin manusiawi dan membuat kita makin sesuai dengan citra Allah. Roh Kebijaksanaan memampukan kita menjadi pribadi berbudi Ilahi.

Friday, May 22, 2020

22 Mei 2020 Jumat Paskah VI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Jumat Paskah VI 22 Mei 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I Kis 18:9-18
Mazmur Tanggapan Mzm 47:2-3.4-5.6-7
Bacaan Injil Yoh 16:20-23a

Saudara saudari yang terkasih,
kita kecewa saat kehilangan kesempatan yang kita nantikan, kita sedih ketika kehilangan barang yang kita sukai, kita berduka cita kalau ditinggal pergi mati orang yang kita cintai. Akan tetapi perasaan dan pengalaman tersebut berubah menjadi pengalaman rahmat, saat ternyata kita kemudian mendapatkan kesempatan lebih baik dan memperoleh barang yang lebih berharga. Duka cita kita pun berakhir, saat kepergian orang yang kita cintai ternyata mengubah kita secara total, menjadi manusia yang luar biasa, sesuai dengan pesan dan harapan serta janji dan mimpi orang yang kita cintai tersebut.

Perubahan dukacita menjadi sukacita ini disampaikan Yesus kepada para muridNya setelah kebangkitan dan kenaikan ke Surga serta turunnya Roh Kudus atas para rasul, janji Yesus terbukti. Di awal karyaNya pada Injil Lukas, Yesus tampil menyatakan bahwa apa yang ditulis Kitab Suci tentangNya terpenuhi di dalam diriNya. “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan  Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang terindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” Lukas 4:18-19. Yesaya berbicara tentang Mesias yang membawa tahun rahmat Tuhan ini diurapi oleh Roh Allah. Yesaya 11:2-3a “Roh Tuhan akan ada padaNya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan (atau disebut juga roh kesalehan), ya kesenangannya ialah takut akan Tuhan”.

Hidup dan karya Yesus dipenuhi oleh ketujuh Roh tersebut. Para murid akan meneruskan hidup dan karya Yesus yang membawa tahun rahmat Tuhan. Mereka akan dilengkapi dengan Roh Allah yang mengurapi Yesus. Roh itu tidak diberikan sewaktu Yesus hidup, tetapi dianugerahkan Yesus kepada para murid setelah Yesus bangkit dan naik ke Surga. Roh Kudus yang dijanjikan Yesus turun atas para rasul pada hari Pentakosta, yaitu hari kelima puluh setelah Yesus wafat, yaitu hari Yobel tahun rahmat Tuhan. Hari Yobel, hari rahmat Tuhan adalah hari kelima puluh, yaitu masa pembebasan hutang dari segala sesuatu, orang yang berhutang harus dibebaskan pada tahun kelima puluh, sehingga pada hari itu orang mengalami penebusan, orang mengalami dirinya sebagai manusia kembali, dibebaskan dari hutang, dibebaskan dari situasi dan status budaknya.

Secara ajaib, saudara saudari yang terkasih, tujuh karunia Roh Kudus juga bekerja dalam diri para rasul, hingga mereka berubah total setelah Pentakosta menjadi Alter Kristus, Alter Christi, Kristus-Kristus yang lain. Orang yang menyaksikan hidup dan karya para rasul, seperti mengalami sendiri Yesus hidup, Yesus hadir. Hidup para rasul sungguh menghadirkan Yesus. Kalau para murid membutuhkan Yesus, sewaktu Yesus bersama dengan mereka, mereka harus mencari dan menemukan Yesus di mana Ia berada, entah di atas gunung, entah di buritan. Kini kalau mereka butuh Yesus, mereka tinggal berdoa. Roh Kudus telah menyertai perjalanan hidup mereka. Itulah yang kita dengar pada bacaan pertama hari ini, saat mereka mengalami ketakutan dalam menunaikan tugas perutusannya, Tuhan meneguhkan, “Paulus, jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini”.

Saudara saudari yang terkasih,
janji yang diberikan Yesus kepada para rasul dianugerahkan juga kepada kita melalui Sakramen Baptis dan Sakramen Penguatan. Tujuh karunia Roh Kudus sudah diterimakan pada kita. Terimalah tanda karunia Roh Kudus: Roh Kebijaksanaan, Roh Pengertian, Roh Nasihat, Roh Keperkasaan, Roh pengenalan akan Allah atau Roh Pengetahuan, Roh Kesalehan dan Roh takut akan Allah.

Marilah kita cairkan hati kita yang beku, budi kita yang keras, agar kita makin mampu menghidupi tujuh karunia Roh ini, sehingga kita mengalami sukacita sebagai murid-murid Tuhan, karena Roh Kudus memberdayakan kita, membuat kita mampu menghadirkan tahun rahmat Tuhan seperti yang dikehendaki Yesus.

Thursday, May 21, 2020

21 Mei 2020 Hari Raya Kenaikan Tuhan


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Hari Raya Kenaikan Tuhan 21 Mei 2020
Gereja Santo Petrus Katedral Bandung


Bacaan I Kis 1:1-11
Mazmur Tanggapan Mzm 47:2-3.6-7.8-9
Bacaan II Ef 1:17-23
Bacaan Injil Mat 28:16-20

Saudara saudari yang terkasih,
kadang kita merasa hidup dalam dunia asing, di mana kita merasa tidak kerasan. Bisa jadi kita merasa asing karena berada bukan dalam dunia nyata, dunia kita. Mungkin kita terlena dan terbius oleh angan-angan, indah tapi palsu, hingga kita seolah merasa tenang dan senang, padahal lari dari kenyataan, di mana hati gelisah karena masalah ternyata belum selesai. Kita boleh jadi terasing karena kita tenggelam dalam kegelapan dan kesulitan, hingga tidak dapat melihat adanya harapan. Peristiwa Kenaikan Tuhan mengajak kita realistis yaitu berharap tanpa tergelincir pada angan-angan kosong, berani menjalani kehidupan nyata yang sering penuh perjuangan, bahkan salib, tanpa harus kehilangan harapan.

Pernah sudah lama sekali seorang Imam bercerita bahwa di suatu Paroki ketika merayakan Ekaristi Kenaikan Tuhan, seperti biasa, berbaris lalu menghadap Altar untuk memberikan hormat  dan ia melihat biasanya ada salib besar di sana, salibnya tidak ada. Dia bertanya-tanya salib besar itu ke mana? Jadi selama misa, ia berpikir, “salib kok tidak ada, siapa yang mengambil? Siapa yang menurunkan? Siapa yang memindahkan?” Selesai misa, ia bertanya kepada koster,
“Pak, salib itu kemana, kok tidak ada?”
“Saya turunkan, Romo”.
“Lho! Kenapa diturunkan?”
“Hari ini Yesus naik ke Surga, tidak disalib lagi. Kita tidak boleh terlena pada salib!”

Saudara saudari yang terkasih,
dalam bacaan pertama diceritakan dua orang yang berpakaian putih menegur para murid yang terlena pada peristiwa naiknya Yesus ke Surga, Yesus terangkat. Para murid seolah lepas dari kenyataan yang ada di hadapannya, dan hanya ingin  berasyik-asyik dengan pengalaman indah bersama Allah. Pengalaman dekat dengan Allah penting, dan harus selalu kita usahakan, tetapi mengapa para malaikat mengingatkan para murid lewat pertanyaan, “mengapa kamu takjub memandang ke langit?” Jangan terus memandang ke atas, tetapi  hadapilah kehidupan dengan berani.
Relasi dengan Allah bukanlah suatu pelarian, melainkan suatu kekuatan dan harapan agar berani terlibat secara penuh dalam hidup sehari-hari untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kejadian ini mengingatkan kita akan peristiwa Yesus berubah wajah di atas Gunung Tabor. Para murid mengalami asyik, mengalami ketenangan rohani, merasa senang, sampai-sampai Petrus ingin tetap tinggal di gunung dengan mendirikan kemah. Tetapi pada waktu itu Yesus berkata dan mengajak mereka, “mari kita turun, kita hadapi hidup nyata, kita bekerja dan berkarya”. Pada hari Yesus naik ke Surga atau terangkat ke Surga, para murid diminta jangan terlena dan berhenti pada keasyikan saat berdoa, beribadat, berjumpa dengan Allah, karena mengalami relasi yang dekat dengan Tuhan. Pengalaman bersama Allah jangan dinikmati secara egois untuk diri sendiri tapi untuk diwartakan kepada semua bangsa. Pengalaman ini menjadi kekuatan untuk berkarya. Maka Yesus memberikan perintah untuk menjadikan semua orang, pertama-tama menjadi murid. Murid adalah pribadi yang mengikuti seseorang. Murid Yesus adalah pribadi yang mengikuti jejak perjalanan hidup Yesus, yaitu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah serta mewartakan dan menyatakan Kerajaan Allah lewat perbuatan kasih yang mungkin tak lepas dari salib, yang adalah bagian dari perjalanan Yesus naik ke Surga. Maka para murid ditugaskan untuk menjadikan setiap orang sebagai murid yang menjalankan perintah cinta dengan cara dan bentuk apapun, agar Kerajaan Allah yang cirinya adalah adanya perubahan kesejahteraan, material, spiritual, moral, hadir di antara kita.

Saudara saudari yang terkasih,
kadang kita ditanya mengapa memasang salib, bukankah salib lambang penderitaan dan hukuman? Kita tidak memuja penderitaan, tetapi kebangkitan dan kemuliaan. Koster yang diceritakan tadi salah tangkap, ingin memisahkan peristiwa salib dari Kenaikan Tuhan. Tanpa salib tidak ada perjalanan Kenaikan Tuhan seperti yang dirayakan hari ini. Salib adalah cara yang tak terelakkan untuk mencapai kemenangan, ketika tiada jalan lain yang lebih bijaksana. Salib kita tempuh untuk tujuan luhur, bukan untuk penderitaan itu sendiri. Hidup kita tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan, dan hidup itu diteguhkan lewat salib yang adalah perjalanan hidup Yesus untuk mencapai kemuliaan. Bagi orang beriman, salib bukanlah jalan sia-sia. Salib memberi semangat dan harapan untuk tetap berjuang, suatu saat nanti kita akan mengalami kemuliaan Kristus. Kepalanya telah mengalami, maka anggota-anggotanya pun akan turut mengikuti. Kenaikan Yesus ke Surga adalah jaminan yang memberi semangat untuk berjuang, bukan untuk meninabobokan kita dari kebahagiaan semu atau dari penderitaan yang membuat kita jemu. Kenaikan Yesus ke Surga adalah sebuah kenyataan yang memberi harapan, bahwa hidup dan karya yang dijalankan dalam nama Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Bahwa menyangkal diri, memanggul salib setiap hari dan mengikuti Yesus akan berbuah keselamatan, akan menghasilkan anugerah kemuliaan.

Wednesday, May 20, 2020

20 Mei 2020 Rabu Paskah VI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Rabu Paskah VI 20 Mei 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I Kis 17:15.22-18:1
Mazmur Tanggapan Mzm 148:1-2.11-12ab.12c-14a.14bcd
Bacaan Injil Yoh 16:12-15

Saudara saudari yang terkasih,
ada peribahasa ‘berburu ke padang datar mendapat rusa belang kaki, berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi’. Itulah peribahasa yang mengajak kita untuk menuntut ilmu secara utuh dan menjadi orang yang benar-benar berilmu dengan berusaha dan bekerja tidak setengah-setengah, tanpa tanggung-tanggung, sehingga hasilnya sesuai dengan harapan. Dalam kehidupan beriman pun kita diajak untuk tidak tanggung-tanggung terbuka pada bimbingan Roh Kudus dan berusaha setulus serta sepenuh hati mengikuti ketentuan yang berlaku, hingga pengetahuan agama kita lebih utuh, pemahaman kebenaran lebih menyeluruh, kepercayaan teguh dan perwujudan imanpun lebih penuh. Pengetahuan agama yang benar mengantar kita pada iman yang tegar dan bermuara pada perbuatan yang tulus.

Saudara saudari yang terkasih,
Roma dikenal dengan kota suci, tetapi juga para turis mengetahuinya sebagai kota copet, yang banyak copetnya. Orang rupanya tahu ciri dan cara gerak gerik copet, kalau sudah lama tinggal di Roma. Tetapi banyak orang tak peduli, yang penting adalah dirinya sendiri tak kecopetan. Pada suatu hari, ada seorang supir yang peduli, tidak biasanya, ketika bis penuh, supir itu memberikan pengumuman melalui mikrofonnya,
“para penumpang, mohon hati-hati. Seperti kita ketahui di Roma ada banyak copetnya dan di dalam bis ini juga ada empat copet!”
Maka penumpang mulai hati-hati, lebih hati-hati lagi. Di perhentian berikutnya, pintu ditutup dan bis berjalan, supir berkata lagi,
“dua copet sudah turun, sekarang tinggal dua”.
Lalu mulailah berhati-hati. Di perhentian berikutnya, supir berkata lagi,
“saudara-saudara sekarang tinggal satu, hati-hati masih ada di dalam satu!”
Ada ceritanya panjang terus. Ia adalah salah satu supir yang peduli dengan berusaha mencegah kejahatan terjadi dan berusaha agar kerugian tidak dialami oleh seseorang. Ia mewujudkan imannya dengan rasa tanggungjawab, walau ada resiko ancaman, mungkin ada ‘mafia’nya, mafia copet. Ternyata ada banyak orang kecopetan di dalam bis, apakah supir lain tidak tahu ada copet? Orang bukan Itali saja yang sudah lama tinggal, kadang-kadang tahu ini copet, ini bukan. Kalau tahu apakah mereka peduli seperti supir di atas?

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus melengkapi penjelasannya tentang Roh Kudus, “tetapi apabila Ia datang, Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”. Itulah salah satu ciri Roh Kudus yang bertindak all out, utuh menyeluruh, tidak setengah-setengah, tanpa tanggung-tanggung, Ia membimbing manusia kepada kebenaran penuh tentang apa yang telah Allah rencanakan serta Yesus wartakan dan laksanakan. Roh Kudus membuka hati manusia kepada pertobatan dan mengantarnya pada keselamatan. Roh Kudus membimbing orang yang bertobat, mewujudkan pertobatannya dengan terlibat pada karya keselamatan yang diamanatkan Yesus.
Paulus mengalami dinamika ini, ia berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan ke Damaskus. Lalu ia bertobat dibimbing oleh Roh Kudus dan akhirnya oleh Roh Kudus yang sama dibimbing menjadi Rasul Segala Bangsa, hingga kita dengar sekarang hari ini, sampai ke Yunani. Dan bagi Paulus, pengakuan harus disertai dengan kepercayaan. Maka dalam Roma 10:9 ia mengatakan, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”. Akhirnya Rasul Segala Bangsa ini mati dipenggal kepalanya di kota Roma. Paulus mewujudkan imannya dalam  perbuatan karena kata Yakobus 2:26, iman tanpa perbuatan adalah mati. Kebenaran yang utuh tampak dalam iman dan perbuatan.

Saudara saudari yang terkasih,
kita mengaku dan percaya kepada Yesus. Puji Tuhan, syukur kepada Allah. Apakah iman ini juga kita wujudkan secara utuh dan menyeluruh dalam pemahaman agama, penghayatan kitab Suci serta pekerjaan dan pergaulan sehari-hari dengan peduli dan bertanggung jawab terhadap orang lain?
Mari dengan bantuan Roh Kudus yang memimpin ke dalam seluruh kebenaran, seperti yang dijanjikan oleh Yesus, kita lebih mendalami agama, pengetahuan agama dan Kitab Suci serta makin menekuni karya dan perbuatan yang sesuai dengan tujuh karuniaNya. Sehingga Roh Kudus yang membimbing kita penuh pada seluruh kebenaran, sungguh memberanikan kita mewujudkan kepercayaan kita ini dalam kehidupan sehari-hari.

Tuesday, May 19, 2020

19 Mei 2020 Selasa Paskah VI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Selasa Paskah VI 19 Mei 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I Kis 16:22-34
Mazmur Tanggapan Mzm 138:1-2a.2b-3.7c-8
Bacaan Injil Yoh 16:5-11

Saudara saudari yang terkasih,
apakah saudara saudari pernah melihat orang gila, atau pernah disebut gila, atau pernah mengatakan kepada orang lain, gila? Orang disebut gila karena pikiran sehatnya hilang, komunikasi kacau dan kelakuannya tak seperti orang normal pada umumnya. Kesadaran, jiwanya, terganggu maka disebut sakit jiwa. Kadang kita juga berkata kepada orang normal: “gila lu! Gelo maneh! Edan kowe!” karena apa yang dikatakan dan dilakukan di luar pikiran normal kita, baik secara positif: luar biasa!, hebat! ataupun secara negatif.
Berbagai peristiwa yang terjadi, seperti kerusuhan, peperangan, ledakan bom bunuh diri, tsunami, gempa bumi, kecelakaan dan pandemik corona yang telah menginfeksi sekitar lima jutaan orang di dunia, yang tercatat, adalah akibat deretan kelalaian atau kejahatan manusia dan bencana alam yang membuat kita bertanya, “apakah ini tandanya jaman edan?” Ada oknum yang tak sadar diri demi kepentingan diri dan kelompoknya menjadi pemicu kejahatan dan bencana itu.

Pujangga Jawa Ronggowarsito menulis buku “Jaman Edan”. Negara yang kehilangan wibawa, penguasa yang kehilangan etika, masyarakat yang kehilangan pranata dan alam yang terus melahirkan bencana. Tulisnya, saya kutip, “Hidup di jaman edan, gelap jiwa, bingung pikiran. Turut edan hati tak tahan, jika tak turut batin merana dan penasaran, tertindas dan kelaparan. Tapi janji Tuhan sudah pasti, seuntung apapun orang yang lupa daratan, lebih selamat orang yang menjaga kesadaran”. Ronggowarsito agaknya mengajak kita untuk menjadi eling, menjadi sadar, orang yang sadar dan menjaga kesadarannya.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus mengutus Roh Kudus untuk menyadarkan  dunia ‘yang gila’, jaman edan. Pada waktu itu, di mana orang tak takut pada Tuhan dan tak malu pada sesamanya untuk berdosa. Bangsa Israel menantikan Mesias sekian lama, tapi ketika datang, Mesias malah ditolak. Sang Penyelamat diputar balikkan jadi penjahat. Maka peristiwa Minggu Palma, “Hosanna Putra Allah!” menjadi peristiwa Jumat Agung “Durjana manusia keparat!”  Yesus mengutus Roh Kudus untuk menginsafkan dunia akan jaman edan ini. Kalau Roh Kudus datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Dunia berdosa karena tidak percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah yang diutus Bapa, karena kasihNya yang begitu besar untuk manusia. Ia adalah sabda yang menjadi manusia, dengan lahir, berkarya, menderita, dan wafat di kayu salib serta bangkit pada hari yang ketiga. Itulah kebenaran misteri inkarnasi dan misteri paskah. Karenanya Iblis dikalahkan, maut diatasi dan kejahatan dilumpuhkan. Roh Kudus mendorong kita untuk percaya Yesus adalah Tuhan yang menyelamati dan yang telah mengalahkan kuasa kegelapan. Maka orang yang dihidupi dan diterangi oleh Roh Kudus akan eling, sadar diri, meninggalkan perbuatan gila, memperbaharui jaman edan bukan ikut-ikutan edan.

Saudara saudari yang terkasih,
kita menerima meterai Roh Kudus pada saat Sakramen Pembaptisan dan dikarunia tujuh karunia Roh Kudus saat Sakramen Penguatan, “terimalah tanda karunia Roh Kudus!” Dengan begitu sepantasnya kita hidup sebagai orang yang sadar, orang yang waras, yang menjauhi dosa, mengakui misteri inkarnasi: “sabda menjadi manusia”, misteri Paskah: “Yesus wafat dan bangkit untuk keselamatan kita”, serta melawan kekuasaan gelap apapun. Tetapi mengapa ada orang yang dibaptis dan menerima sakramen penguatan, masih hidup seperti orang edan yang kelihatannya kok efek-efeknya bukan Roh Kudus, tapi roh kudis yang menjijikan atau roh kuda yang masih liar? Kita mesti terus memperbaharui diri melalui doa, meditasi, devosi, membaca Kitab Suci, merayakan Sakramen-Sakramen agar Roh Kudus yang telah tercurah dan dicurahkan kepada kita, mendapat tempat di hati kita dan biarlah dia berkarya selalu menginsafkan kita untuk hidup waras sebagai murid-murid Kristus. Mungkin, kalau mungkin kita juga berada di jaman edan, jangan ikut-ikutan edan, tapi mari kita hidup sebagai murid yang sadar diri dan diteguhkan, dikuatkan, dilindungi oleh Roh Kudus yang diutus oleh Yesus.

Monday, May 18, 2020

18 Mei 2020 Senin Paskah VI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Senin Paskah VI 18 Mei 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I Kis 16:11-15
Mazmur Tanggapan Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b
Bacaan Injil Yoh 15:26-16:4a

Saudara saudari yang terkasih,
salah satu panggilan kaum awam adalah terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. Dokumen Lumen Gentium no 31 menulis : “Berdasarkan panggilan mereka yang khas, kaum awam wajib mencari kerajaan Allah, dalam mengurusi hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah. Mereka hidup dalam dunia, artinya: menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan duniawi, dan berada di tengah kenyataan biasa hidup berkeluarga dan sosial. Di situlah mereka dipanggil Allah, untuk menunaikan tugas mereka sendiri dengan dijiwai oleh semangat Injil, dan dengan demikian ibarat ragi membawa sumbangan mereka demi pengudusan dunia bagai dari dalam”.

Pada tanggal 20 September 2015 dalam kunjungannya ke Amerika, Sri Paus Fransiskus bertemu dengan panitera, juru tulis Kim Davis yang rela dipenjara karena tak mau mengkhianati ajaran gereja Katolik sebagai perwujudan imannya. Pada tanggal 1 September 2015, Kim Davis menolak tugas pengadilan untuk menerbitkan sertifikat perkawinan sejenis di kantornya di Rowan County, Morehead Kentucky, Amerika Serikat.
Sri Paus mengucapkan terima kasih atas keberaniannya dan bertemu pada September 2015 lalu mengucapkan terima kasih dan ia berkata, “tetaplah kuat, hidup sesuai hati nurani!” dan ia memuji keberaniannya untuk mengikuti hati nurani dan mengikuti ajaran Gereja, sekalipun dengan resiko ia dipenjara. Ia dipenjara lima hari, karena Kim Davis berkata, “daripada saya mengkhianati hati nurani dan saya tidak sesuai dengan ajaran Gereja, lebih baik saya kehilangan pekerjaan dan lebih baik saya dipenjara”. Akhirnya ia dibela oleh mantan Gubernurnya yang menyatakan, “saya bersedia menggantikan Kim Davis dipenjara”. Akhirnya ia dikeluarkan setelah lima hari dan mantan Gubernur itupun tidak dipenjara juga karena orang yang terhormat.
Kemudian Sri Paus memberikan Rosario, satu untuk Kim Davis satu untuk Ibunya karena Kim Davis berkata, “saya belajar nilai-nilai Katolik dari Ibu saya, dan saya belajar bagaimana menuruti hati nurani dari keluarga”. Maka setelah itu, di depan anggota Senat, Paus mengharapkan agar dalam menjalankan tugas, mereka mengikuti suara hati untuk berani berkata “Tidak!” pada apa yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus meneguhkan para muridNya untuk tidak kecewa dan untuk menyadari hakekat panggilannya mewartakan kebenaran dan kebaikan, yang mungkin membawa resiko seperti yang dialami oleh Yesus, tidak populer dan menjadi bulan-bulanan massa. Berbuat baik dan benar mudah malah bisa diputar balikkan sebagai penjahat dan penjilat. Yang lebih mengenaskan adalah pelaku kejahatan malah menganggap perbuatan jahatnya sebagai bakti pada Allah. Kata Yesus, “kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu, akan menyangka bahwa ia berbuat bakti pada Allah”. Tapi jangan takut karena Roh Kudus lebih berkuasa dari kekuatan jahat apapun. Hingga akan menyaksikan orang yang setia pada kebaikan dan kebenaran, akan menyaksikan dan mendapatkan happy ending, akhir yang membahagiakan, akhir yang menyelamatkan, sebagaimana sengsara dan wafat Yesuspun berujung pada kebangkitan.

Saudara saudari yang terkasih,
kadang, alih-alih menyatakan kebaikan dan kebenaran melawan arus negatif, demi jabatan dan pangkat sesaat, dan untuk mendapatkan tempat dan mengisi dompet, ada orang Katolik yang rela dan tega menjual kehoramatan sebagai murid Kristus yang diutus ke dunia. Ia malah terbawa arus dan kehilangan idealisme sebagai murid Tuhan, yang adalah garam dan terang dunia. Gereja mendukung semua orang Katolik untuk terlibat dalam kelompok politik dan sosial manapun yang sesuai dengan Pancasila. Mau kelompoknya apapun, panggilan orang Katolik tetaplah sama, yaitu hidup dalam kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan hati nurani dan Ajaran Sosial Gereja, serta berani melawan arus negatif walaupun arus itu populer.

Saudara saudari yang terkasih,
apakah kita akan setia dan bertahan sebagai murid Yesus? Ini tergantung sejauh mana relasi kita dengan Tuhan, tergantung kecintaan kita pada Tuhan. Kesetiaan dan ketahanan itu berbeda. Kesetiaan berdimensi emosional dan spiritual yang lahir dari kasih, relasi dengan Tuhan, sedangkan ketahanan berdimensi relasional dan fungsional yang muncul dari tugas dan tanggun jawab kita. Kesetiaan melahirkan ketaatan yang nampak dalam komitmen, iman dan kerelaan untuk berkorban diri, sedangkan ketahanan membentuk ketegaran dan memantapkan kewajiban. Orang yang setia akan bertahan, tapi orang yang bertahan belum tentu setia. Ia bertahan mungkin karena terpaksa, ada kebutuhan, ada keadaan tertentu atau kepentingan lain.

Mari kita menjadi orang yang setia, agar kita bertahan dalam melaksanakan tugas-tugas kita dengan penuh tanggung jawab, mewartakan kebaikan dan kebenaran, menyatakan diri sebagai garam dan terang hidup.

Sunday, May 17, 2020

17 Mei 2020 Minggu Paskah VI Th A/II


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Minggu Paskah VI 17 Mei 2020
Gereja Santo Petrus Katedral Bandung


Bacaan I Kis 8:5-8.14-17
Mazmur Tanggapan Mzm 66:1-3a.4-5.6-7a.16.20
Bacaan II 1Ptr 3:15-18
Bacaan Injil Yoh 14:15-21

Saudara saudari yang terkasih,
orang yang ingin berhasil, membutuhkan seorang atau tim pelatih, coach, yang mendampingi untuk meningkatkan bukan hanya keahlian tetapi juga kepribadiannya. Pelatih ini dibutuhkan agar rencana, tujuan dan cita-cita tercapai, entah di bidang olahraga menjadi juara, dalam organisasi menjadi pemimpin terbaik, atau dalam bidang pendidikan lulus cemerlang. Demikianlah juga kita, kalau ingin berhasil dalam kehidupan beriman, membutuhkan pelatih rohani. Yesus berjanji mengutus Roh Kudus yang berperan bukan hanya sebagai pelatih tetapi pembela rohani.

Alkisah Senin pagi, Edun namanya, dibangunkan oleh ibunya. Diketuk pintunya,
“Edun, bangun! Cepat pergi ke sekolah! Sudah hampir jam tujuh, jam enam lebih!”
Tapi ia tidak mau bangun dan Edun menjawab,
“Ibu, saya tidak mau bangun, saya akan mmberikan dua alasan mengapa saya tidak mau pergi ke sekolah. Satu, mereka (yaitu orang-orang yang ada di sekolah) tidak suka saya dan saya tidak suka mereka!”
Lalu ibunya menjawab,
“Edun, kamu harus pergi sekarang! Kamu sudah janji, dan saya akan memberikan dua alasan kenapa kamu harus pergi: satu, kamu sudah berumur lebih dari limapuluh tahun dan kamu adalah kepala sekolahnya yang harus memimpin upacara bendera!”
Edun segera bangkit dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Ibu Edun di sini berfungsi sebagai spiritual coach yang mengingatkan tugas dan tanggung jawabnya.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus menjelaskan dialektika kasih, bagaimana kasihNya kepada para murid lahir dari kasihNya kepada Bapa dan bagaimana Bapa mengasihiNya. KetaatanNya kepada Allah, hingga wafat di salib adalah wujud kasihNya kepada Allah demi keselamatan manusia. Bagi Yesus kasih bukanlah kata tapi karya, bukanlah janji tapi bukti. Untuk menumbuhkan kasih dan mengembangkan ketaatan kepada Allah, Yesus mengutus Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran yang akan menyertai perjuangan para muridNya.
Roh Kudus yang diutus Yesus disebut, dalam bahasa Yunani, Parakletos yaitu penolong, pendamping dan pengacara.  Parakletos adalah pembela yang biasanya berdiri di samping seseorang. Ia bukan hanya pengacara tetapi juga pelatih yang mendampingi hidup, mengingatkan tujuan dan meningkatkan kemampuan. Parakletos adalah spiritual coach, pelatih rohani, dan spiritual lawyer, pembela rohani, yang mengingatkan betapa besarnya kasih Allah kepada manusia melalui pengorbanan Yesus di salib. Roh Kudus ini menumbuhkan kasih dari para murid kepada Yesus agar mereka mentaati perintah Yesus untuk saling mengasihi. Roh Kudus ini membela mereka, agar mereka bertahan sebagai murid-murid Yesus yang setia walau dihadang berbagai tantangan. Roh Kudus terus mengingatkan para murid, apa yang dikatakan Yesus, “jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”.

Saudara saudari yang terkasih,
ada pendapat bahwa keberhasilan, kemenangan, keselamatan ditentukan oleh bagaimana orang mengembangkan bakat kemampuannya seoptimal mungkin, hingga tak perlu rahmat Ilahi dan berkat Allah. Pendapat ini keliru. Yesus menegaskan, manusia butuh penolong Ilahi yang tepat yaitu Roh Kudus. Yang selalu berdiri di samping, setiap saat, terutama di saat kita tak berkutik menghadapi persoalan. Di kala lidah kita kelu untuk berkata-kata dan mempertahankan kebenaran, budi kita buntu untuk berpikir, hati kita beku untuk berbelas kasih, dan badan kita lemas untuk bertindak. Roh Kudus adalah pelatih spiritual yang membimbing kita untuk hidup baik, benar, santun dan kudus. Ia adalah pembela spiritual, yang selalu ada di samping kita dan bertindak demi keselamatan kita.

Saudara saudari yang terkasih,
Roh Kudus itu mendorong dan menjaga kita untuk berani menyatakan seruan profetik dan melakukan tindakan etik di manapun. Hingga kita berani berkata “No!” terhadap segala yang melawan cinta kasih, yang bertentangan dengan sila-sila Pancasila dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Kita diundang untuk tegar dan tegas berkata, “Tidak!” terhadap segala kejahatan apapun. Kita adalah anak-anak Tuhan dalam kebhinnekaan, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, yang dipanggil untuk mewujudkan cinta kasih dengan menyuarakan hati nurani, kerinduan rakyat dan kehendak Allah.

Saudara,
sehebat-hebatnya juara olahraga, baik tingkat nasional maupun internasional, mereka membutuhkan seorang pelatih. Ada coach di balik kesuksesan mereka. Demikianlah sebaik-baiknya kita, kita membutuhkan Roh Kudus sebagai penolong dan pembela kita yang membantu kita mengembangkan kasih kepada Tuhan, hingga kita makin setia melaksanakan perintah Tuhan dan menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Mari kita tumbuhkan kasih kita kepada Allah hingga kita makin setia dan taat kepadanya, agar kita makin mampu mewujudkan perintah Tuhan : saling mengasihi satu sama lain. Kita taat kepada Tuhan bukan karena takut, tetapi karena kasih kita kepada Tuhan, karena Ia telah mendahului mengasihi kita.

Saudara saudari yang terkasih,
semangat gotong royong kini sedang dikembangkan dan dihidupkan kembali di mana-mana. Dengan berbagai cara, di berbagai daerah, saya terkesan dengan satu konsep, jogo tonggo, dari Jawa Tengah, menjaga tetangga, yang mengambil spirit solidaritas masyarakat pedesaan untuk saling menjaga dan membantu dalam segala hal, yang bagi saya adalah wujud kongkrit saling mengasihi. Tanpa pilih-pilih, siapa mereka yang membutuhkan uluran kasih, yang jelas, mereka adalah tetangga kita, yang hidup berdampingan ada di sebelah kita.
Roh Kudus mengingatkan kasih ini dan mendorong kita mewujudkannya secara kongkrit lewat gerakan berbagi secara tulus. Jika kita berani berkata, “saya percaya pada Tuhan dan sungguh mengasihiNya”, gerakan peduli sesama dan berbagi rejeki adalah wujud nyatanya yang telah, sedang, dan akan terus kita lakukan.
Mari kita berbagi hati, berbagi budi, berbagi energi dan berbagi rejeki bagi mereka yang terutama saat ini sangat membutuhkan uluran bantuan kita. Tuhan memberkati.

5 Juli 2020 Minggu Pekan Biasa XIV

Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC Misa Hari Minggu Biasa XIV 5 Juli 2020 Gereja Santo Petrus Katedral Bandung video :  Min...