Monday, June 8, 2020

7 Juni 2020 Hari Raya Tritunggal Maha Kudus


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Hari Raya Tritunggal Maha Kudus 7 Juni 2020
Gereja Santo Petrus Katedral Bandung


Bacaan I Kel 34:4b-6.8-9
Mazmur Tanggapan Dan 3:52-56
Bacaan II 2 Kor 13:11-13
Bacaan Injil Yoh 3:16-19

Saudara saudari yang terkasih,
kiranya wajar kalau orang beriman bertanya siapakah Allah yang aku imani atau siapakah Allah bagi kita, bagiku. Kita tak dapat memahaminya secara penuh tetapi dapat mengalamiNya. Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, bacaan-bacaan Kitab Suci mewartakan siapakah Allah itu bagi manusia. Ia adalah Allah yang panjang sabar dan penuh kasih setiaNya. Karena kasihNya yang begitu besar kepada manusia, Allah mengutus Putra TunggalNya. Allah itulah yang diwartakan oleh Paulus dalam sapaan kepada umatNya, kasih karunia Tuhan Yesus, Kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. Setiap hari kita mengungkapkan misteri Allah Tritunggal dengan membuat Tanda Salib: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Beberapa orang yang berhasil dalam bidang olahraga atau bidang lain ketika menjadi juara, menang, langsung membuat Tanda Salib, itulah Allah Tritunggal. Walaupun tak dimengerti betul, tetapi rupanya dekat dan akrab dengan manusia. Misteri Allah Tritunggal ini merupakan pusat dari misteri iman kita. Orang mengira Ekaristi, Ekaristi adalah sakramen yang adalah puncak dan sumber, tetapi ajaran misteri iman, puncaknya ada pada misteri Tritunggal Mahakudus. Katekismus Gereja Katolik no 234, gampang dihapal, menulis demikian, misteri Tritunggal Mahakudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Itulah misteri kehidupan batin Ilahi, dasar pokok segala misteri iman yang lain dan cahaya yang meneranginya. Itulah yang paling mendasar dan hakiki dalam hirarki kebenaran iman. Seluruh sejarah kesalamatan tidak lain adalah sejarah jalan dan upaya yang dengan perantaraanNya, Allah yang satu dan benar, Bapa, Putra dan Roh Kudus mewahyukan diri, memperdamaikan diriNya dengan manusia yang berbalik dari dosa dan mempersatukan mereka dengan diriNya.
Allah yang satu dengan tiga pribadi, mewahyukan diri dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan mencapai puncaknya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yaitu dalam misteri inkarnasi dan Pentakosta, turunnya Roh Kudus atas para rasul. Dalam Perjanjian Lama ada tanda yang mengarah pada Allah Tritunggal, dalam Bacaan Pertama hari ini, Tuhan turun dalam awan. Awan adalah simbol Roh Kudus. Tuhan dalam Perjanjian Baru, selalu ditujukan pada pribadi Allah yang kedua, yaitu Putra. Tuhan adalah gambaran dan bayangan Allah Putra yang akan sempurna menjelma menjadi manusia nanti dalam diri Yesus dalam misteri inkarnasi. Maka sejak awal, Allah Tritunggal ada, bukan berarti bahwa inkarnasi sudah terjadi pada Perjanjian Lama, tidak! Tetapi tanda, clue, bayangannya, hadir. Maka kalau ada selalu ada awan dan Tuhan, di situlah Roh Suci, Roh Kudus dengan Allah Putra dalam kesatuan dengan Bapa.

Musa mengalami bagaimana kasih Allah menyertai bangsa Israel yang diselamatkan dari perbudakan Mesir dan dihantar menuju tanah terjanji. Musa menyadari bagaimana umatnya berkeras hati, hingga jatuh berkali-kali dalam dosa dan berhala. Tetapi sekaligus mengalami bagaimana Allah itu sabar terhadap umatNya dan selalu mengampuni umatNya. Dosa umat Israel tidak dapat mengalahkan, tidak dapat membatalkan belas kasih Allah yang luar biasa. Dan itulah yang disampaikan Injil hari ini, mengapa Allah mengutus PutraNya ke dunia? Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Ia datang bukan untuk menghakimi, bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Sebelum wafat, Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk menyertai muridNya, GerejaNya sampai akhir jaman, berada di antara kita semua.
Kesatuan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus itulah yang dialami dan diwartakan oleh Santo Paulus, yang sapaannya selalu kita dengar dalam perayaan Ekaristi, setelah atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, para Imam biasa berkata, semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, Cinta Kasih Allah - Paulus itu rumusan dari Paulus, Paulus tidak pernah menyebutkan Bapa selalu Cinta Kasih Allah. Bapa oleh Yesus selalu diungkapkan, tapi itu merupakan pribadi Allah pertama - Cinta Kasih Allah dalam persekutuan Roh Kudus besertamu. Paulus mengalami Allah Tritunggal dalam hidupnya. Itulah Allah Tritunggal yang satu dalam tiga pribadi: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Misteri ini sulit dipahami, tetapi dapat dialami. Kita mengawali doa dengan rumusan Tritunggal Mahakudus, dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Walaupun masa pandemi ini kita berada di rumah, berapa kali kita membuat Tanda Salib? Apa yang kita alami saat membuat Tanda Salib? Pertama-tama bukan membuat Tanda Salib, yaitu mengingatkan apa yang dilakukan Allah dalam Yesus untuk manusia, tetapi pertama-tama ketika kita membuat Tanda Salib adalah soal Trinitas, soal Allah Tritunggal, yaitu tentang siapakah Allah yang kita imani. Kita tidak mengerti betul, siapakah Allah Tritunggal, tetapi kita sungguh mengalami kedekatan denganNya. Ada daya Ilahi yang menyertaiNya, ada kasihNya yang melindungi kita, hingga kita merasa sreg, pas, aman dan nyaman saat setelah membuat Tanda Salib. Untuk memohon berkat dan perlindungan, ketika kita takut, waktu kecil atau waktu sekarang juga, ada tempat gelap, ada bunyi sesuatu, takut, langsung buat Tanda Salib: Bapa, Putra dan Roh Kudus, Amin, merasa lebih tenang ada Allah Tritunggal hadir di sana. Ketika kita sedih, ketika kita susah, ketika kita menderita, atau bahkan ketika kita sukses, berhasil, bahagia, karena terwujud, harapan terpenuhi dan doa terkabul. Itu seperti para juara, begitu menang langsung Tanda Salib, untuk menyatakan Allah yang aku imani, Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin. Saat itu sebetulnya kita mengalami kehadiran Allah Tritunggal yang sulit untuk dimengerti tetapi kasihNya sungguh kita alami. Kita berdoa kepada siapa? Kepada Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Lalu kita harus berdoa kepada siapa? Kepada siapa saja, pribadi Allah pertama, Bapa, atau kedua Putra atau ketiga Roh Kudus, sama saja. Ketika kita berdoa kepada Putra, kepada Yesus, Bapa dan Roh Kudus tahu. Ketika kita memohon terang Roh Kudus, Bapa dan Putra juga tahu dan kepadaNyalah kita berdoa. Lain dengan manusia, kalau saudara menyampaikan intensi misa ke Romo Hilman, Romo Hilman tidak menyampaikan kepada Romo Eddy, tidak akan tertulis. Kalau menyampaikan kepada saya tidak ditulis maka tidak tertulis. Tetapi kepada Allah, berdoa kepada Allah siapapun, Allah Tritunggal satu, tiga pribadi. Satu Allah yang Maha Kuasa dalam tiga pribadi itu.

Saudara saudari yang terkasih,
ada … saya mengakhiri dengan ilustrasi dari Santo Agustinus yang terkenal. Kisah Santo Agustinus setelah bertobat merenungkan Allah Tritunggal, berjalan-jalan di tepi pantai, sulit mengerti apa itu Allah Tritunggal. Siapa? Ia yang luar biasa pintar, ingin memahami betul Allah Tritunggal. Ia berjalan-jalan, tiba-tiba ia melihat seorang anak sedang sibuk, lalu ia tanya,
“lagi apa, Nak?”
“Main”
Lalu dia lewat, dia lihat lagi, bolak balik anak itu,
“Nak, apa yang kaulakukan?”
Dia bilang,
“saya sedang berusaha memindahkan air laut itu, ke dalam lubang kecil, sumur kecil ini”.
Agustinus tertawa, “hahahaha”.
Lalu katanya,
“kenapa tertawa?”
“Bagaimana mungkin”, kata Agustinus, “engkau mau memindahkan air yang begitu luas ke dalam lubang sumur yang engkau buat, tidak mungkin!”
Anak kecil itu berkata,
“itulah yang Bapak lakukan, bagaimana mungkin mau memindahkan kebesaran dan kemuliaan Allah yang begitu agung ke dalam otak Bapak yang begitu kecil?”
Agustinus tersentak, berhenti lalu ia berkata, “Tuhan, ampunilah aku …”.
Anak kecil itu tiba-tiba lenyap.
Setelah kejadian itu Agustinus tidak lagi mau mencari tahu dan mau menguasai Tuhan dengan pengetahuannya, tetapi berserah diri kepada Tuhan sepenuhnya dalam hidup. Maka di hari-hari berikutnya Agustinus berkata, “kalau dia itu bisa dimengerti secara penuh, bisa masuk akal, diuraikan berdasarkan logika, secara rasional dan orang mengerti betul, dia itu bukan Allah”. Allah itu selalu ada misteri yang tidak kita ketahui. Allah itu melampaui apa yang kita tanyakan. Allah itu mengatasi pikiran kita. Maka godaan untuk mengecilkan realitas Allah adalah ketidak percayaan kita kepada Allah. Bagaikan kalau kita melihat objek yang tinggi, ada Borobudur besar, luar biasa, candi, lalu ada gantungan kunci Borobudur, ingin menggenggam. Ada menara Eiffel di Paris, besar, lalu ada gantungan kuncinya, menara Eiffel kita genggam. Itulah kecenderungan dan godaan kita, mau menguasai Allah yang begitu besar, menggenggamNya dalam tangan kecil, menguasaiNya dalam otak.
Maka saudara saudari, saat pikiran tidak mampu memahami, mari kita buka pintu iman. Allah itu besar, agung, transenden, jauh, tetapi imanen, dekat di hati, ada menyertai kita, wujudNya tidak kelihatan, efeknya kita alami.
Renungkanlah apa yang saudara alami sekarang, bagaimana kehadiran Allah ketika kita membuat Tanda Salib: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin. Lihatlah kesaksian orang-orang kudus yang mengalami kehadiran Allah tanpa sungguh memahami Allah Tritunggal itu.
Mari kita pahami sebagaimana Allah mewahyukan dan mari kita imani Ia Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus, Allah yang berbelas kasih, Allah yang selalu menyertai dan mencintai kita. Ia jauh, besar, tapi dekat ada di hati kita. Amin.

Saturday, June 6, 2020

6 Juni 2020 Sabtu Pekan Biasa IX


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Sabtu Pekan Biasa IX 6 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 2 Tim 4:1-8
Mazmur Tanggapan Mzm 71:8-9.14-15a.16-17.22
Bacaan Injil Mrk 12:38-44

Saudara saudari yang terkasih,
kadang orang tertipu penampilan luar, ada yang tampak rapi, ramah, aktif dalam kegiatan sosial dan spiritual, ternyata bunglon, buaya darat bahkan lintah darat. Justru ada orang yang dilecehkan karena penampilannya, ternyata tulus berhati emas. Yang menentukan ternyata bukanlah penampilan tapi hati. Itulah pesan Injil hari ini, ahli Taurat yang berpenampilan terhormat dikritik dan janda miskin yang memberikan dua peser dipuji oleh Yesus lebih banyak daripada orang-orang kaya.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus mengkritik banyak kelompok yang dianggap bejat karena dengan penampilannya, mereka mengelabui orang lemah, mempermainkan hukum Allah dan memanipulasi kaum marginal. Yesus tidak pernah mengkritik orang karena prestasi, keberhasilannya, tetapi karena hatinya yang jauh dari Allah hingga kelakuannya pun menyimpang dari kehendak Allah. Yesus mengkritik orang kaya bukan karena kekayaannya, tetapi karena kelekatannya. Yesus mengkritik orang Farisi dan Saduki bukan karena kedudukannya yang tinggi, tetapi karena kemunafikannya. Yesus mengkritik ahli Taurat bukan karena keahliannya, tetapi karena manipulasinya. Yesus mengkritik para Imam bukan karena kedekatannya dengan altar, tetapi karena kelakuannya yang tak pantas.

Saudara saudari yang terkasih,
perkataan dan perbuatan mereka tak menunjukkan sikap orang beriman, pemimpin masyarakat dan tokoh agama. Kepintaran, kedudukan, kekayaan dan pelayanan dalam agama adalah suatu anugerah Allah yang patut disyukuri, sebagai berkat yang untuk dibaktikan kepada Allah lewat pengabdian pada sesama, tetapi ternyata orang-orang yang dikritik oleh Yesus itu menggunakannya untuk kepentingan sendiri. Yesus melihat, akarnya adalah bukan pada apa yang mereka miliki, tetapi ada pada hati dan budi yang tidak tertuju kepada Allah. Maka Yesus memanggil murid-muridNya, “lihat, itu ada orang janda”. Ia memuji seorang janda yang miskin, yang hati dan budinya terarah kepada Allah hingga tidak ragu mempersembahkan apa yang dimilikinya. Mungkin muridNya berkata, “kok Engkau tahu punya dua peser?” Yesus berkata, “ya Saya tahu apa yang ada dan apa yang dipegangnya, apa yang disembunyikannya, tahu semuanya”.
Orang yang hati dan budinya tertuju pada Allah, akan mencurahkan seluruh energinya dan materinya bagi kepentingan Allah. Ia yakin bahwa Allah yang diabdinya akan memberi berkat yang cukup untuk hidup bahkan akan memberi lebih dari itu, yaitu sukacita dan damai sejahtera. Persembahan bukanlah tindakan amal dan sosial semata, melainkan juga tindakan spiritual, yaitu perwujudan iman kepada Allah, yang adalah sumber berkat yang patut kita syukuri. Janda miskin yang tidak mempunyai kewajiban untuk mempersembahkan kolekte pada jaman itu, justru janda miskin termasuk orang yang harus diberi amal. Ada orang asing dalam tradisi Kitab Suci Perjanjian Lama, yang harus dibantu yaitu janda, yatim piatu dan orang miskin. Nah ini janda dan orang miskin jadi satu, jadi suatu yang  harus dibantu luar biasa. Tetapi justru ini memberikan. Maka memberikan kepada orang asing tadi, janda, orang miskin dan anak-anak itu bisa menjadi silih atas dosa-dosa, bisa menggantikan kurban binatang. Maka membantu orang miskin adalah mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Maka Yesus pun mengumpamakan diri, menghadirkan diri dalam diri orang-orang yang membutuhkan bantuan itu. Maka menjadi tradisi juga, tindakan amal sebagai silih dari kurban kepada Allah, silih dari dosa juga, bahkan dalam satu pengertian, orang miskin menjadi Altar hidup untuk mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Allah.
Janda miskin yang tidak punya kewajiban seperti itu, tetapi karena imannya kepada Allah, ia mempersembahkan apa yang dimilikinya. Ia dipuji Yesus bukan karena keadaannya yang miskin, tetapi karena hatinya yang kaya. Ia secara kualitatif mempersembahkan lebih banyak daripada orang-orang yang secara kuantitatif memasukkan uang lebih banyak. Karena baginya, persembahan bukan hanya soal berbagi dan memberi, tetapi soal mempercayakan diri kepada Allah yang menyelenggarakan kehidupan dengan mempersembahkan apa yang berharga untuk digunakan bagi mereka yang membutuhkan. Yesus berkata sebelumnya, “berikanlah apa yang menjadi hak Allah”.

Saudara saudari yang terkasih,
ada ilustrasi, seorang anak pada malam minggu, belum tidur menunggu ayahnya yang setiap hari pulang malam dan pergi pagi hari untuk bekerja. Hampir tengah malam anaknya belum tidur, ayahnya selalu kalau mau tidur menengok anaknya, ternyata anaknya belum tidur juga, ia kaget, “kenapa belum tidur?” Ia bertanya.
“Papa kerja digaji berapa satu jam?”
“Untuk apa kamu tanya-tanya? Ayo tidur sana!”
“Tidak apa-apa, saya hanya ingin tahu, karena Papa terus bekerja”.
“Soalnya Papa bekerja untuk kamu semua, untuk mainan kamu, untuk makanan, untuk segala kebutuhan. Kamu tidur!”
Anak itu menangis, karena Bapaknya sayang, ia melihat anaknya, ia bertanya
“Kenapa kamu tanya, Nak? Papa bekerja sehari dibayar dua puluh lima ribu”.
“Kalau minggu berapa Pa? Kenapa Papa kerja?”
“Kalau minggu lebih besar, makanya Papa bekerja, lima puluh ribu satu jam”.
Anak itu berkata, “boleh tidak Pa, pinjam empat puluh ribu?”
“Untuk apa kamu pinjam? Sana tidur!”
Anaknya menangis lalu tidur. Ternyata Papanya nengok, anak belum tidur. Lalu ia mendekati, bertanya,
“Kenapa kamu mau pinjam?”
Anaknya berkata, “saya punya enam puluh ribu Pa, saya pinjam empat puluh ribu supaya saya bisa menggaji Papa untuk besok hari minggu ke gereja sama-sama, dua jam saja”.
Ayahnya memeluk anak itu dan berkata, “Nak, jangankan kamu pinjam, Papa beri besok lima puluh ribu, kita ke gereja bersama-sama!”
Ke gereja bersama-sama, anaknya bersyukur kepada Tuhan, karena itulah doa anak itu, supaya Papanya bisa ke gereja bersama anaknya. Waktu kolekte Papanya kaget, anak itu memasukkan lima puluh ribu, lalu ia berkata,
“Nak, kenapa besar-besar?”
Ia bilang, “Pa, untuk Tuhan yang telah baik mengabulkan doa saya, kenapa Papa harus memperhitungkan, hitung-hitung sama Tuhan? Lihat hidup kita, Papa sehat, saya sehat, Mama sehat, kakek nenek sehat, bukankah itu dari Tuhan, kenapa harus hitung-hitungan dengan Tuhan yang memberikan segalanya untuk kita?”
Papanya tersentak dan terdiam.

Saudara saudari yang terkasih,
ada orang kaya materi tetapi miskin rohani, sebaliknya ada orang yang miskin materi tetapi kaya rohani. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah orang miskin materi tetapi juga miskin rohani. Yang menjadi harapan kita semua adalah orang yang kaya baik rohani maupun materinya. Kekayaan materi seharusnya menyadarkan orang untuk memperkaya diri secara rohani, sehingga suka berbagi, bukan dilihat dari kuantitas pemberiannya tetapi dari kualitas hati yang memberi. Kekayaan rohani hendaknya mendorong orang untuk berjuang meningkatkan kesejahteraan material dan sosial, karena Tuhan menghendaki kesejahteraan itu. Syukur kepada Allah, kini banyak orang yang murah hati berbagi rejeki, dengan orang miskin. Sebagai orang beriman, kemurahan hati ini akan lebih bermakna kalau ditempatkan dalam konteks iman, yaitu bakti kepada Allah melalui sesama. Donasi dan kontribusi yang tidak dibatasi dengan pemberian materi, tetapi juga bisa sumbangsih ilmu, waktu, pikiran, tenaga, sepantasnya merupakan ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat yang berlimpah kepada kita, hingga orang, kita semua, dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.
Marilah pertama-tama memberikan hati kepada Tuhan, maka budi, materi dan energi kita pun akan dimanfaatkan untuk kepentingan Tuhan.


Friday, June 5, 2020

5 Juni 2020 Peringatan Wajib Santo Bonifasius


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Peringatan Wajib Santo Bonifasius 5 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 2 Tim 3:10-17
Mazmur Tanggapan Mzm 119:157.160.161.165.166.168
Bacaan Injil Mrk 12:35-37

Saudara saudari yang terkasih,
pada umumnya kita mencari sesuatu yang cocok, menyenangkan dan membuat hati tenang. Walau kadang harus mengabaikan hal-hal lain yang menjadi bagian dari keutuhan sesuatu. Ada orang yang menonton atau membaca hanya bagian yang disukai, sedangkan bagian lain dilewat, skip-skip-skip atau diabaikan, sehingga keseluruhan cerita terganggu dan keutuhan makna dikorbankan. Itulah ciri pembaca, pendengar dan penonton selektif, yang menikmati apa yang disukainya saja. Kadang cara ini efektif karena keterbatasan waktu, tetapi cara ini bisa menyesatkan karena orang mendapat informasi atau deskripsi tentang sesuatu secara sepotong-sepotong. Itulah kritik Yesus kepada ahli Taurat sehingga salah tangkap dan celakanya yang salah itu diajarkan kepada orang lain.

Ada ilustrasi, suatu hari florist terkenal menerima banyak pesanan, luar biasa! Dan ada orang besar yang pada waktu itu memesan. Lalu setelah itu disampaikanlah kepada pegawainya,
“Mas, ini ada dua pesanan besar, jangan salah!” Kata pemilik florist itu.
“Ngerti pak!”
Waktu dijelaskan, “nanti yang ini … “
“Iya pak, sudah ngerti pak!”
“Dengar dulu, saya belum selesai”, kata tuannya, tapi pegawainya bilang,
“saya sudah ngerti, pak”
“awas ya kalau salah!”
“Kapan saya salah pak? Saya kan belum pernah salah”.
Ia memang nggak pernah salah, menjalankan dengan baik. Esok harinya, pemilik florist itu dimaki-maki oleh pemesan bunga, karena penerima bunga itu kecewa dan marah. Orang yang meninggal dikirimi bunga ‘Selamat Menempuh Hidup Baru’, sedangkan orang yang menikah dikirimi bunga ‘Turut Berduka Cita’. Tertukar! Karena pegawai rupanya tidak mendengarkan pesan secara utuh.

Saudara saudari yang terkasih,
keprihatinan itulah yang juga disampaikan Yesus di bait Allah, bahwa para ahli Taurat membaca dan mempelajari Kitab Suci sesuai dengan keinginan mereka. Tidak terbuka kepada Roh Kudus untuk memahami kebenaran Sabda secara utuh. Mereka adalah pembaca dan pengajar selektif terhadap bagian Kitab Suci, mana yang disukai, mana yang mudah dipahami, bukan mana yang harus dipelajari dan mana yang harus diperdalam. Mereka mengajarkan bahwa Mesias adalah Anak Daud. Titik. Manusia biasa. Maka rakyat pada waktu itu memahami Mesias yang akan datang adalah manusia biasa, tapi penampilan luar biasa, seperti Daud yang adalah pahlawan berani, hingga menumbangkan Goliath. Saat Yesus datang membuat banyak mukjizat, ada sesuatu yang lain, ada kekuasaan Ilahi yg luar biasa. Dan ada orang yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias Anak Daud, misalnya dua orang buta yang mengikuti Yesus, perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan, atau orang banyak yang berseru ketika Yesus memasuki Yerusalem, “Hosanna Anak Daud!” Banyak orang percaya, tetapi banyak juga orang yang tidak percaya, hingga berkata,  “bukankah Ia ini anak Yusuf? Bagaimana Ia bisa berkata, Ia telah turun dari Surga?” Yesus mau mengoreksi pandangan mereka, Mesias yang dimaksud bukan hanya orang hebat tetapi Putra Allah yang turun dari Surga, Ia adalah berasal dari keturunan Daud dalam kerangka kehidupan manusiawiNya, karena Ia adalah berkodrat manusia dan berkodrat Allah. Yesus memberi klarifikasi bahwa yang dimaksud Daud dalam terang Roh Kudus pada Mazmur 110:1, demikianlah Firman Tuhan kepada Tuanku, (menyebutkannya Tuanku) duduklah di sebelah kananKu”. Adalah posisi Mesias di atas Daud, bukan sekedar manusia keturunan Daud hingga Daudpun menyapa Mesias yang adalah keturunan Daud sebagai Tuanku, Tuhanku, yang lebih agung dari Daud. Maka Yesus sebagai Mesias bukan hanya manusia biasa, tetapi Putra Allah yang telah turun dari Surga, yang bagi Daud mempunyai kekuasaan tertinggi. Maka disebut duduk di sebelah kanan, itu adalah simbol kekuasaan tertinggi. Tiada kekuasaan lain di bawah Allah kecuali yang duduk di sebelah kanan.

Saudara saudari yang terkasih,
apakah kita termasuk pembaca, pendengar dan penonton selektif? Kadang ada orang yang ikut Persekutuan Doa, Pendalaman Iman, Alkitab, Ibadat atau Misa, sadar atau tidak sadar bersifat selektif. Ikut sebagian, datang terlambat, pulang duluan atau pergi dulu, balik lagi, hingga ada bagian yang tak diikuti secara utuh. Pasti ada alasan dan kita perlu memakluminya, sejauh alasan itu tidak menjadi kebiasaan atau ciri orang tersebut.
Marilah saudara saudari, kita menjadi pembaca, pendengar dan pelaksana Firman Allah secara utuh, hingga kita menjadi pribadi berhikmat yang berjalan menuju keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Seperti yang disampaikan Paulus kepada Timotius dalam bacaan pertama hari ini, segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Kitab Suci berisi Sabda Suci agar manusia menjadi pribadi suci seperti dikehendaki Allah dalam Yesus.
Mari kita menjadi pendengar, pelaksana, pembaca yang utuh.

Thursday, June 4, 2020

4 Juni 2020 Kamis Pekan Biasa IX


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Kamis Pekan Biasa IX 4 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 2 Tim 2:8-15
Mazmur Tanggapan Mzm 25:4bc-5ab.8-9.10.14
Bacaan Injil Mrk 12:28-34

Saudara saudari yang terkasih,
kita mengenal istilah hukum rimba yaitu aturan yang diterapkan binatang di hutan dengan prinsip, siapa kuat dia yang menang. Di situ yang berlaku adalah kehebatan fisik, ketajaman taring, kekuatan otot dalam menghadapi lawan dengan tiada belas kasih sampai musuh tak berkutik bahkan hingga tewas. Itulah hukum tak beradab di antara binatang hutan. Sayangnya relasi manusia dengan sesama pun kadang dipengaruhi oleh hukum rimba. Ada orang yang tega memperlakukan sesama dengan kejam, bagaikan menendang binatang dan melempar barang, entah dengan perkataan dan perbuatan. Satu ahli Taurat mau menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang hukum utama yang berlaku bagi manusia, sementara mereka mempraktekkan hukum rimba. Bagi Yesus jelas, kasih adalah hukum bagi manusia, barangsiapa tidak melaksanakan hukum kasih akan jatuh pada hukum rimba.

Saudara saudari yang terkasih,
pernah saya membaca di suatu koran, lama beberapa tahun yang lalu, seorang tokoh nasional yang giat memperjuangkan kemanusiaan ternyata didakwa karena menyiksa pembantu rumah tangganya dengan kejam, memukulnya dengan besi dan menyetrika dengan panas, sangat tragis! Tahu tentang kemanusiaan, tetapi tidak mempraktikkan dengan sungguh.
Dalam agama Yahudi saudara saudari, ada 613 hukum. Para pemimpin Yahudi, apalagi ahli Taurat, tahu hukum yang paling benar mana, tetapi mereka mengajarkan tidak konsisten, tergantung mana yang menguntungkan. Kalau yang bertanya ini, dijawab itu, kalau bertanya yang kelompok ini dijawab lain, tergantung mana yang menguntungkan dan mana yang menyenangkan. Mereka rela dan tega menjualbelikan kebenaran padahal mereka menjadi orientasi hukum pada waktu itu. Orang bertanya kepada kelompok ini tetapi mereka mempermainkan hukum. Kini mereka mau menjebak Yesus, yang diwakili oleh satu orang, tetapi Yesus menjawab dengan benar, apa yang paling penting dalam hukum Taurat yaitu kasih. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti pada diri sendiri adalah hukum mutlak bagi bangsa terpilih, yang tanpanya orang tidak patut masuk dalam kelompok umat Allah. Ahli Taurat itu tak berkutik, karena sering mempraktikkan hukum rimba bukan hukum kasih. Segala aturan seharusnya bersumber pada pernyataan iman pada Allah dan pelayanan kasih pada sesama yang dibuktikan dengan pemeliharaan diri sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi kasih. Praktek hukum rimba terjadi karena orang tak sungguh mengasihi Allah, mencintai sesama dan memelihara diri sendiri. Bagaimana mungkin orang akan mengasihi Allah yang tidak kelihatan, kalau ia sendiri tidak mengasihi sesama yang kelihatan yang ada di depannya. Rasul Yohanes dalam suratnya mengatakan, orang demikian adalah pembohong. Bagaimana mungkin orang akan mengasihi sesama yang bukan tubuhnya sendiri kalau ia sendiri tidak sayang pada dirinya sendiri dengan cara hidup di dalam rahmat. Ahli Taurat itu tahu dan hapal tetapi tidak melakukannya. Maka Yesus berkata, “engkau tidak jauh dari kerajaan Allah”. Ya tidak jauh, memang betul, tetapi rupanya belum masuk, tidak ada di dalam, masih ada di luar, tidak jauh. Ia ibarat mempunyai kunci untuk memasuki kerajaan Allah tetapi tidak ia gunakan, dan tidak tahu bagaimana menggunakan. Itu ibarat ada contoh ilustrasi, anekdot : pada suatu hari di gedung lantai sembilan perkantoran, ada beberapa kantor dalam satu perusahaan, ada persoalan listrik, mati, sehingga AC mati, semua mati, padahal panas. Pada jam istirahat mereka terpaksa turun untuk makan, tapi harus turun menuruni tangga lantai sembilan, ada masalah lift tidak jalan, mereka turun. Sampai di security mereka menitipkan kuncinya masing-masing, ke sana. Makan siang, selesai makan siang berharap persoalan listrik selesai, ternyata belum juga, maka mereka harus kembali, naik ke atas, berjalan kaki, sembilan lantai, pelan-pelan, kecapaian, akhirnya naik lagi, naik lagi, sampai di lantai sembilan mereka senang tetapi puas capai.
Waktu mau masuk kantor, mereka berkata, “aduh lupa kuncinya dititipkan di security!” Turun lagi ke bawah, terpaksa harus turun lagi ke bawah, ngos-ngosan lagi turun ke bawah. Lalu diminta, ya sudah satu orang, tapi semua, karena semua bertnggungjawab. Setelah kembali lagi sampai, begitu sampai lagi lantai sembilan, listrik sudah jalan, lift sudah jalan. Orang tidak bisa masuk tanpa kunci, demikianlah ahli Taurat itu tahu hukum, tetapi tidak melaksanakan, tidak menggunakannya, maka tetap tidak masuk, ia hanya dekat.

Saudara saudari yang terkasih,
banyak orang tahu hukum Allah, aturan gereja, ajaran moral serta nilai-nilai Injil. Bahkan lebih dari itu, ada umat juga yang secara khusus memperdalam Kitab Suci melalui Pendalaman Iman, Alkitab, Persekutuan Doa, kursus bahkan ramai-ramai sekarang dengan zoom. Bagus luar biasa! Patut diacungi jempol, patut dipuji, pasti Yesus akan kagum kepada mereka ini, seperti Ia kagum terhadap ahli Taurat.
Mudah-mudahan apa yang kita ketahui, kita pelajari dan kita perdalam hingga kita pahami dan hapal betul, bahkan kita ajarkan kepada orang lain, kita laksanakan. Jangan sampai ibarat kita mempunyai kunci, tetapi tidak memanfaatkan kunci itu, hingga kita tetap tidak masuk, berada di luar. Jika kita hanya mengetahui dan mengajarkannya tetapi tidak melaksanakannya, Yesus akan berkata kepada kita juga, “engkau tidak jauh dari kerajaan Allah, tetapi belum masuk”. Kuncinya adalah hukum kasih. Hukum kasih bukan hanya kunci-kunci-kunci yang membutuhkan banyak, tapi kunci master. Master kuncinya adalah hukum kasih, yang lain-lainnya mengikutinya. Dengan kunci itu segala sesuatu dapat dibuka, segala sesuatu akan beres. Kunci hukum kasih sudah diberikan kepada kita dan kita sudah hapal serta contohnya sudah diperlinhatkan Yesus di atas kayu salib.
Mari kita gunakan kunci hukum kasih itu untuk masuk ke dalam kerajaan Allah dengan melaksanakan dan mewujudkan hukum kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Wednesday, June 3, 2020

3 Juni 2020 PW St Karolus Lwanga dkk


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga dkk 
3 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 2 Tim 1:1-3.6-12
Mazmur Tanggapan Mzm 123:1-2a.2bcd
Bacaan Injil Mrk 12:18-27

Saudara saudari yang terkasih,
pemahaman, keyakinan dan iman akan hidup akhirat mempengaruhi hidup kita di dunia saat ini. Jika kita memiliki gambaran hidup kekal yang optimis, kita pun akan bersemangat dalam hidup, kini dan di sini, sebagai persiapan menuju ke kehidupan nanti. Ada orang yang membayangkan kehidupan di akhirat seperti kehidupan di dunia ini dengan segala kesenangan dan apa yang dimiliki, apa yang dilakukannya. Wajar, karena kita memang tidak pernah tahu kehidupan di Surga nanti. Maka kadang ada perbedaan pendapat tentang apa yang akan dimasukkan ke dalam peti jenazah saudara yang meninggal,
“nanti ini dibawa”
“nanti ia cari”
“apalah ia membutuhkan barang itu?”
“oh jangan nanti kebanyakan, keberatan”.
Kadang-kadang ada hal-hal semacam itu.  
Pernah terjadi ada seorang yang menangis, berdoa sedih, karena merasa bersalah kepada ibunya. Sebelum meninggal ibunya berpesan,
“nanti kalau pada suatu hari Mama meninggal, tolong doakan dengan agama yang Mama yakini”.
Anak-anaknya semua sudah Katolik, sehingga tidak sempat mendoakannya menurut agama yang diyakini mamanya. Maka ia sedih. Lalu saya tanya,
“kenapa Bu?”
“Ya saya merasa bersalah, karena Mama pasti sedih karena tidak didoakan menurut keinginan sebelum meninggal”
Saya berkata,
“ingat sabda Yesus hari ini, bahwa orang yang sudah meninggal itu akan hidup bagaikan malaikat, tidak mempunyai keingian seperti kita. Jadi pasti mama juga sudah berbahagia”. Demikian juga kalau kita mendoakan arwah, kalau ada yang terlewat, yang di surga sana tidak akan merasa apa-apa. Tapi mungkin di kita, “aduh kok kelewat ya. Tidak disebut ya?” Nah itu keinginan kita, tapi orang yang sudah meninggal, disebut dan tidak disebut juga, mereka tahu, mereka sudah seperti malaikat.
Hari ini saudara saudari, Santo Karolus Lwanga kita peringati beserta dengan teman-temannya. Mereka memberi kesaksian kehidupan bagaikan malaikat, yang tidak dikuasai nafsu dan naluri, tetapi mengikuti kehendak Tuhan. Sebagai orang-orang yang baru percaya kepada Yesus, mereka melawan praktek satanik di Uganda, perdagangan budak, poligami, pemerkosaan anak-anak. Semua itu pekerjaan nafsu dan naluri yang dilawan Karolus Lwanga. Akhirnya Karolus Lwanga sebagai pelayan dan pekerja kerajaan dibunuh bersama dengan teman-temannya. Waktu akan dibunuh mereka tidak gentar sedikitpun, karena yakin akan memperoleh kehidupan kekal yang lebih membahagiakan. Bagaikan hidup seperti malaikat-malaikat.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus berhadapan dengan orang Saduki yang adalah kelompok elit, beberapa Imam Kepala yang tak percaya pada kebangkitan. Kelompok yang namanya berasal dari Imam Besar jaman Salomo, Zadok, sangat memegang teguh Kitab Musa, dengan tafsiran sangat harafiah dan bersifat yuridis. Mereka ingin membenarkan keyakinan mereka, dengan membuat Yesus, Guru yang disegani pada waktu itu, tidak berkutik melalui kasus yang sulit terjadi, walaupun dimungkinkan dalam Hukum Musa yaitu Ulangan 25:5-10, bahwa seorang laki-laki harus mengawini kakak iparnya, apabila kakaknya mati tanpa meninggalkan keturunan. Tapi tidak disebut tujuh, hanya kalau ada. Orang Saduki membawa persoalan cerita tujuh. Bayangkan tujuh saudara laki-laki mati tanpa keturunan setelah menikahi wanita yang sama. Mungkin orang berpikir juga di sana, wanita macam apa ini, super womankah? Orang Saduki senyum-senyum karena yakin naa…kali ini - kemarin Yesus oleh orang Herodian dan Farisi ternyata menang - sekarang mereka senyum-senyum, sekarang pasti keok nih, pasti kalah telak. Mereka kaget waktu mendengar jawaban Yesus, “kamu sesat! Justru kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah”. Kaget, mereka merasa tahu betul Kitab Suci terutama percaya kepada Hukum Taurat, lima Kitab Suci pertama, dan mengajarkan tentang Allah bahkan mewakili Allah dalam ibadat. Orang Saduki sok tahu, ternyata tak tahu menahu soal Kitab Suci dan soal Allah, hingga menolak kuasaNya dan tak percaya kebangkitanNya. Yesus mengambil dari Taurat Musa supaya mereka tahu atau tidak, apa yang ditulis di dalam keluaran 3:6 tentang semak yang terbakar, Allah dan kuasaNya ada di sana. Allah adalah Allah orang hidup, Allah Abraham, Ishak, Yakub, tiga Bapa Bangsa yang hidup di dunia sesuai dengan kehendak Allah. Dan sewaktu hidup di dunia, mereka menghidupi apa yang akan terjadi di Surga, yaitu mengikuti kehendak Allah. Hidup mereka ada dalam harmoni Allah. Mereka disebut lagi untuk menyatakan bahwa mereka hidup dan waktu hidup di duniapun hidup sesuai dengan kehendak Allah. Bayangkanlah kita akan hidup, kata Yesus, bagai malaikat yang tidak akan mati lagi, bukan menjadi malaikat, jangan salah, bukan menjadi malaikat tapi bagai malaikat. Tidak akan mati lagi, tidak akan kawin dan dikawinkan, tidak akan mempunyai nafsu dan naluri seperti manusia. Maka gambaran hidup di Surga itu dilaksanakan oleh para Imam, Biarawan, Biarawati dengan hidup selibatnya, bahwa hidup yang tidak kawin dan dikawinkan itu dihidupi sekarang ini, sebagai tanda nyata akan kehidupan yang akan datang.
Kalau ada orang baik, kita berkata, “wah luar biasa! Hatinya seperti malaikat”. Kehidupan bagaikan malaikat itu akan kita alami, kita akan menjadi orang yang tidak lagi dikuasai oleh nafsu dan naluri, keinginan manusiawi, tetapi hanya akan digerakkan oleh kasih dan disinari oleh Roh Allah sendiri. Maka Yesus menekankan, bahwa kehidupan para murid sekarang ini harus disinari semangat kebangkitan Kristus, sebagai antisipasi kehidupan bersama Kristus nanti. Maka kalau kita hidup, janganlah pesan-pesan tertentu. Kalau tidak dilaksanakan pun tidak apa-apa, karena kan mereka itu tidak mempunyai keinginan seperti kita, tapi  justru tantangan kita adalah melaksanakan apa yang telah dihidupi orang-orang baik itu, supaya kita lanjutkan cita-citanya, amanatnya, pesannya. Nah itu jauh lebih penting, bukan keinginan-keinginan manusiawinya.

Saudara saudari yang terkasih,
kalau kehidupan kelak begitu indah, pantaslah kita menghidupi sekarang ini dengan hidup yang tidak dikuasai nafsu dan naluri, tetapi digerakkan oleh kasih kepada Allah dan sesama, kepada alam dan ciptaan. ‘Itulah kehidupan bagaikan malaikat’. Tujuh karunia Roh Kudus telah dicurahkan kepada kita, dan kita doakan siapapun yang menghasilkan sembilan Buah Roh dalam hidupnya, akan tampil bagaikan malaikat yang membawa sukacita dimanapun dan kapanpun ia berada. Orang macam ini pasti dicari dan dinanti banyak orang.

Marilah saudara saudari, kita hidup bagaikan malaikat, bagi satu sama lain yang saling mengingatkan kasih Allah, saling meneguhkan untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah, sebagai persiapan untuk kehidupan nanti. Sehingga pada saat kita menutup mata, orangpun akan bersaksi, bahwa kita mati dengan hati bagaikan malaikat.

Tuesday, June 2, 2020

2 Juni 2020 Selasa Pekan Biasa IX


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Selasa Pekan Biasa IX 2 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 2 Ptr 3:12-15a.17-18
Mazmur Tanggapan Mzm 90:2.3-4.10.14.16
Bacaan Injil Mrk 12:13-17

Saudara saudari yang terkasih,
sikap oportunis yaitu mau untung sendiri dan mencari muka sering menjadi ganjalan untuk bisa menempatkan persoalan secara proporsional. Bagi seorang oportunis, yang penting bukanlah kebenaran melainkan ketenaran dan kebesaran. Sikap ini memungkinkan orang untuk tidak mau tahu, atau pura-pura tidak tahu, mana yang baik dan mana yang benar. Maka kenyataan bisa dibolak balik untuk menjatuhkan orang lain, bahkan untuk  mencobai Allah. Orang semacam ini bermuka dua, tidak tulus dalam berkata dan bertindak. Sikap semacam ini dijumpai Yesus dalam diri orang Farisi dan Herodian yang mau menjebak dan menyudutkannya. Kadang kita melihat/menyaksikan dua orang bertengkar, mempersoalkan kebenaran, yang satu berkata,
“kemarin kamu berkata begitu, tetapi mengapa sekarang begini? Lalu mana yang benar?” Jawabannya, “dua-duanya benar, yang lain itu adalah situasinya”.
“Sudahlah, dasar plin plan!”
Salah satu ciri orang oportunis itu berubah-ubah, plin plan, tidak berpegang pada prinsip mana yang benar. Kebenaran bisa berubah-ubah tergantung mana yang akan menguntungkan.

Saudara saudari yang terkasih,
orang Farisi biasanya tak rukun dengan orang Herodian karena perbedaan keyakinan. Misalnya orang Farisi menentang penjajah Roma, tidak suka pada Herodes, tetapi orang Herodian pendukung dinasti Herodes. Dua kelompok yang sering tampil bagaikan kucing dan anjing ini tiba-tiba rukun, karena mau menjatuhkan Yesus dengan mengajukan pertanyaan dilematis: “apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak? Haruskan kami membayar atau tidak?” Mereka memuji Yesus sebagai orang yang tidak mencari muka karena memang Yesus punya muka, punya integritas. Orang yang punya muka adalah orang yang punya integritas, antara perkataan dengan perbuatannya nyambung. Sementara mereka tidak punya muka dan mau mencari muka di depan rakyat. Jebakan ini tampaknya mujarab, Yesus tidak mungkin lolos tanpa kecaman dan hukuman. Kalau Ia menjawab boleh membayar pajak, berarti ia akan dituduh melawan Allah yang adalah satu-satunya Raja keyakinan bagi orang-orang Farisi. Kalau menjawab tidak boleh, Yesus akan diadukan pada Herodes, yang dianggap sebagai provokator melawan Herodes dan pemerintahannya, yang akan menguntungkan posisi ini bagi kelompok Herodian. Orang Farisi bertanya soal pajak bukan karena mencintai hukum Allah dan mau membela Allah, tetapi mereka mau menyembunyikan kejahatan dan mau menjerat mereka dengan demikian popularitas mereka naik. Orang Herodes bertanya soal pajak bukan karena mau menegakkan hukum Roma tetapi mau menjilat penguasa mau mempertahankan status mereka sebagai kelompok pendukung Herodes. Yesus membeberkan kemunafikan mereka yang sering mengambil hak Allah dengan mengabaikan hak orang kecil dan  menindas rakyat biasa.

Saudara saudari yang terkasih,
orang yang mencari muka dan untung sendiri, sering bersikap tak masuk akal, jika ia berbicara, bertanya, mengusulkan sesuatu. Apa yang tidak ada sangkut paut dikait-kaitkan supaya masuk akal, apa yang berhubungan justru dihilangkan, untuk menyembunyikan sesuatu dan membenarkan dirinya sendiri. Yang penting bagi orang ini menang, lawan kalah. Yang utama adalah kepuasan bukan kebenaran. Yesus mengajak kita memberikan apa yang menjadi hak Allah dan hak kaisar. Pertama berikanlah kepada kaisar sudah beres, lalu yang kedua ini yang lebih penting adalah, berikanlah apa yang menjadi hak Allah. Hak Allah apa? Hak kaisar jelas, tunjukkan koin itu, gambar dan tulisan siapa ini? Gambar dan tulisan kaisar bolak balik, maka kata Yesus berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar. Lalu apa yang menjadi hak Allah? Kita ingat akan Kejadian 1:27, Allah menciptakan manusia seturut gambarNya, Allah menciptakan dia pria dan wanita seturut gambarNya. Manusia adalah koin Allah, mungkin saya bisa mengatakan koin emas Allah yang gambar dan tulisan Allah bolak balik, pria dan wanita, ialah gambar dan tulisan Allah. Kalau manusia adalah gambar dan tulisan Allah, koin Allah, berarti menjadi hak Allah, hidup itulah yang menjadi hak Allah. Kita diajak untuk memelihara hidup dengan layak sebagai persembahan pantas, karena ini adalah milik Allah. Yesus berbicara bukan soal memberi kepada Allah, tetapi memberi kembali, mengembalikan apa yang menjadi hak Allah. Sepertinya kita ini berhutang hidup kepada Allah yang telah menitipkan memberikan kepada kita dan Allah berhak mendapatkannya kembali. Apa yang kita miliki berasal dari Allah, makin sejahtera hidup kita, rohani dan jasmani, makin kita berhutang pada Allah. Kita diajak untuk mengembalikan hak Allah dengan berbuat kasih. Di situlah kewajiban spiritual kepada Allah, membayar pajak kepada Allah kita wujudkan dalam kewajiban sosial kepada sesama, dengan disimbolkan membayar pajak kepada kaisar, yang adalah diminta oleh Allah sebetulnya pemerintah itu untuk kesejahteraan rakyatnya.
Marilah kita persembahkan hidup kita kepada Allah dan sesama, berdasarkan porsinya dengan tulus tanpa akal bulus, dengan lurus tanpa mencari muka, dengan kudus tanpa bermuka dua. Itulah yang digambarkan oleh Petrus dalam bacaan pertama, makin tulus kita maka makin bertumbuh belas kasih dan pengenalan kita akan Yesus Kristus.

Monday, June 1, 2020

1 Juni 2020 Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Bunda Gereja


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Peringatan Wajib 
Santa Perawan Maria Bunda Gereja, 
Senin 1 Juni 2020
Kapel Hati Kudus Yesus RS Boromeus Bandung


Bacaan I Kis 1:12-14
Mazmur Tanggapan Mzm 87:1-2.3.5.6-7
Bacaan Injil Yoh 19:25-34

Saudara saudari yang terkasih,
Sri Paus Fransiskus menetapkan Peringatan Wajib Maria Bunda Gereja untuk dimasukkan ke dalam kalender liturgi pada setiap hari Senin setelah Pentakosta. Dekrit peringatan yang ditanda tangani oleh Kardinal Robert Sarah diumumkan pada tanggal 3 Maret 2018 dengan kalimat pertama, “Penghormatan dan bakti penuh sukacita yang diberikan kepada Bunda Maria oleh Gereja saat ini, dalam terang refleksi tentang misteri Kristus dan kodrat Allah, tidak dapat mengabaikan sosok seorang wanita, Perawan Maria yang adalah Bunda Kristus sekaligus Bunda Gereja”.

Saudara saudari yang terkasih,
Maria adalah Bunda yang setia menemani perjalanan Yesus sejak lahir sampai mati. Maka di Kapel Maria Bunda Yesus ini ada kaca patri dan kaca grafir dari kehidupan Yesus bersama dengan Maria. Maria menerima kabar dari Roh Kudus, lalu  kemudian kelahiran Yesus, kemudian di sana ada salib Yesus di sana ada Maria, lalu ada Yesus diturunkan di atas salib, lalu ada Yesus bertemu Maria di dalam perjalanan salib, di sini ada Maria pergi ke Mesir bersama dengan Yesus, Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah, lalu  Yesus diketemukan di dalam Bait Allah, Yesus di dalam perjamuan. Jadi selalu Maria itu ada dalam kehidupan Yesus. Di bawah kayu salib, Yesus menyerahkan IbuNya kepada murid terkasih, dan murid terkasih kepada IbuNya, saat para rasul berkumpul di ruang atas, bertekun sehati dan berdoa bersama dengan para rasul, menantikan Roh Kudus. Roh Kudus turun, Maria juga ada di sana. Itulah saat Pentakosta, saat kelahiran gereja. Maria melahirkan dan menjadi Ibu Kristus, kepada tubuh mistik gereja maka Maria juga menjadi Ibu dari anggota tubuh mistikNya. Perayaan ini akan membantu kita untuk mengingatkan bahwa pertumbuhan kehidupan Kristen harus ditambatkan, dilabuhkan, pada misteri salib, persembahan Kristus dalam perayaan Ekaristi dan kepada Bunda Penebus dan Bunda kita yaitu Bunda Tertebus.

Saudara saudari yang terkasih,
ada ilustrasi kecil, ada seorang Oma sedang berdoa khusus di patung Bunda Maria, doa Rosario, tiba-tiba di atas salib besar itu ada suara,
“Oma, ini Yesus”.
Dia kaget, lalu lihat ke salib, lalu meneruskan doa Rosario.
“Oma, ini Yesus”.
Dia lihat lagi, dia berdoa lagi.
“Oma, ini Yesus”.
Dia lihat lagi, akhirnya Oma itu berkata, “ssstt… Yesus diam! Saya lagi bicara dengan ibuMu”.
Ternyata ada seorang yang sedang membersihkan di balik patung Yesus itu lalu mengganggu Oma itu. Tapi Oma ini salah mengerti, ia berkata “sst… Yesus diam, saya sedang berbicara dengan ibuMu”, yang harus terjadi sebetulnya adalah sebaliknya. Ketika kita sedang bersama  Maria dan di situ ada Yesus, Maria akan berkata, “ini Putraku, berbicara dengan Putraku”. Jadi Maria akan mengantar kepada Putra. Salah pengertian kalau orang mengutamakan Maria melupakan Yesus dan tidak akan mungkin orang yang berdevosi kepada Maria melupakan Yesus atau yang mencintai Yesus melupakan Maria, tidak mungkin terjadi

Saudara saudari yang terkasih,
kesetiaan Maria hingga berada di bawah kayu salib bukan sekedar cinta seorang Ibu pada anaknya, tetapi juga ketaatan seorang beriman kepada Allah untuk melaksanakan kehendak Allah sesuai janjinya, “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”. Di atas salib Yesus melihat Maria dan murid terkasih di sampingnya. Momen tragis penuh haru ini dijadikan Yesus sebagai kesempatan rahmat untuk menyatakan posisi Maria dalam komunitas murid Yesus, gerejaNya, dengan menyerahkan IbuNya kepada murid yang dikasihiNya sebagai wakil para murid yang lain dan menyerahkan para murid pada perlindungan Maria. “Ibu, inilah anakmu, anak inilah Ibumu”. Murid itu menerima IbuNya di dalam rumahnya. Yesus mempercayakan IbuNya kepada murid terkasih untuk ada di hati dalam kehidupan para murid. Para murid lain lari, hanya murid yang terkasih, setia. Murid terkasih itulah dititipi Maria IbuNya dan menerima Maria di rumahnya, di dalam hatinya, dalam kehidupan para murid, di dalam gerejaNya.

Saudara saudari yang terkasih,
Maria dihormati bahkan dipuja di dalam gereja karena Maria sungguh mendapat tempat dalam hati Yesus. Berbagai devosi Maria akan membawa kita kepada Yesus. Maka orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan, Juru Selamat, Kepala Mistik Gereja, akan juga mengakui  Maria sebagai Ibu, Ibunda Yesus Kristus dan Bunda Gereja karena fakta dan amanat Yesus yang menyerahkan murid-muridNya, yaitu Gereja pada perlindungan Maria. Maka devosan Maria sejati akan juga menjadi murid yang terkasih yang setia kepada Yesus. Maka orang Katolik yang tidak menerima Maria sebagaimana yang diajarkan oleh gereja, itu bisa diibaratkan seperti seorang pria yang mencintai seorang gadis dan mengawininya, tetapi ia tidak mau menerima ibunya sebagai mertuanya. Ada orang berkata, kalau mengawini dia satu paket dengan ibunya dengan mertuanya. Tidak semua mertua begitu, maksudnya, mertua tertentu yang ditakuti dan tidak disenangi oleh mantunya.
Ketika kita mengimani Yesus, satu paket Ia adalah IbuNya. Ketika kita menghormati Maria satu paket mengantar kepada Yesus. Maka devosan sejati Maria, orang yang berbakti pada Maria akan makin dekat dengan Yesus, dan orang yang makin dekat dengan Yesus akan menghormati, berbakti kepada Maria. Ada begitu banyak murid, dua belas murid tapi hanya kepada murid yang terkasih, Yesus menyerahkan, karena ia setia dan murid terkasih itu menerima Maria sebagai Ibunya. Maka murid terkasih akan sekaligus juga menjadi seorang yang menghormati Maria dengan baik. Maka murid terkasih menjadi juga anak Maria yang terkasih.

Mari saudara saudari yang terkasih, pada peringatan Maria Bunda Gereja ini kita makin menghayati bahwa devosi kita makin mengantar kedekatan kita kepada Yesus dan kecintaan kepada Yesus makin menaruh hormat kita kepada Bunda Maria. Bunda Maria mendapat karunia istimewa dan kuasa dari Allah,  maka ada banyak doa dan ada banyak mukjizat juga yang bisa terjadi melalui doa-doa dan kesucian Maria.

5 Juli 2020 Minggu Pekan Biasa XIV

Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC Misa Hari Minggu Biasa XIV 5 Juli 2020 Gereja Santo Petrus Katedral Bandung video :  Min...