Wednesday, June 17, 2020

17 Juni 2020 Rabu Pekan Biasa XI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Rabu Pekan Biasa XI 17 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 2 Raj 2:1.6-14
Mazmur Tanggapan Mzm 31:20.21.24
Bacaan Injil Mat 6:1-6.16-18

Saudara saudari yang terkasih,
manusia bahagia penuh rahmat saat hidup sesuai dengan kehendak Allah. Saat godaan datang, ia mulai gelisah bahkan jatuh, hidup dalam dosa dan sengsara, malu karena tidak mendengarkan Allah malah menuruti bisikan iblis. Damai sejahtera lenyap, persahabatan terganggu. Untuk mengembalikan damai sejahtera itu kita perlu bertobat dengan cara berdoa, berpuasa dan beramal. Kata orang puasa tanpa doa itu diet, puasa tanpa karya amal itu namanya ngirit, puasa tanpa sukacita itu namanya kere, puasa tanpa pilihan itu namanya sengsara, puasa tanpa iman itu namanya drama dan tragedi, hanya tindakan ritual belaka supaya dilihat dan dipuji orang. Puasa dengan doa dan amal kasih itulah yang dikehendaki Yesus.

Saudara saudari yang terkasih,
bagi Yesus tindakan asketik, yaitu puasa dan pantang, mistik yaitu laku tapa dan doa, dan tindakan karitatif yaitu amal kasih, jangan hanya menjadi aksesoris hidup pada tingkat basa basi, hingga sekedar upacara ritual dan seremonial belaka, tetapi menjadi suatu niat dan kiat untuk mendekatkan diri dan berbakti kepada Allah. Orang berpuasa dan berpantang bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk menahan diri agar hati dan budinya makin selaras dengan kehendak Allah. Orang yang melakukan tapa dan doa bukan untuk kesalehan pribadi, tetapi agar ia semakin dekat dengan Bapa di Surga hingga memancarkan kasih Allah dalam perkataan dan perbuatan. Orang melakukan karya amal dan kasih bukan untuk dipuji, tetapi memanfaatkan energi dan materinya untuk kehidupan umat dan kepentingan masyarakat. Itulah tiga nasihat Injil bagi murid Yesus agar hidup berbakti yang secara radikal menjadi tiga kaul religius. Dengan berpuasa kita mengontrol diri agar dapat menyerahkan diri untuk hanya dibimbing oleh Roh Allah bukan dikendalikan oleh perut, itulah inti kaul ketaatan. Dengan berdoa, kita makin mendekatkan diri dengan Yang Kudus agar dapat hidup murni dan sesuai dengan panggilan Tuhan, itulah yang menjadi inti kaul kemurnian. Dengan beramal orang makin melepaskan diri dari kelekatan terhadap apa yang dimilikinya agar lepas bebas pada milik dan makin tulus berbagi, itulah yang menjadi inti kaul kemiskinan. Jika mengalami kesulitan dalam berpuasa, berdoa dan beramal, bagaimana mereka yang mengucapkan kaul akan mau dan mampu menghidupi kaul ketaatan, kaul kemurnian dan kaul kemiskinan sebagai bentuk radikal dari nasehat Yesus?

Saudara saudari yang terkasih,
kita berpuasa dan berpantang bukan karena makanan itu buruk, tidak enak, tetapi makanan itu diperlukan dan diinginkan manusia apalagi enak, tetapi karena makanan itu memang enak dan nafsu makan bisa menjerumuskan kita pada kenikmatan lidah dan kepuasan badan tanpa peduli pada sesama yang mengalami kelaparan. Dengan berpuasa kita menahan diri serta makan secukupnya dan memberikan kelebihan pada mereka yang membutuhkan lewat tindakan amal kasih. Di situlah puasa membebaskan seseorang dari perbudakan daging badanik, dari keinginan bebas diri sendiri untuk menyerahkan kepada Tuhan dan untuk makin merindukan makanan rohani. Kalau menahan atau mengontrol diri untuk makan berlebihan saja tidak bisa, apakah kita bisa dijamin bahwa kita akan mampu dan mau mengontrol diri dari nafsu yang lebih dahsyat dan mencelakakan? Puasa ini dilakukan dalam doa yang mengantar pada keutamaan untuk makin rendah hati, mengandalkan kekuatan Allah. Tak ada seorangpun dapat berdoa dengan baik kalau ia sombong, kalau berdoa kita akan menjadi seperti anak kecil di hadapan Tuhan dan untuk makin rendah hati.

Saudara saudari yang terkasih,
kegiatan esketik, mistik dan karitatif sebagai ungkapan pertobatan spiritual yang tampak dalam pertobatan material lebih diintensifkan lagi dalam masa Prapaskah dan Adven. Akan tetapi pertobatan itu dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat. Buah nyata dari pertobatan adalah waktu dan kesungguhan dalam berdoa serta merayakan sakramen bertambah, pengendalian badan dan kontrol diri makin baik, keterlibatan dalam kegiatan umat makin bertambah serta kepedulian untuk membantu masyarakat kian meningkat. Berdoa, berpuasa dan karya amal kasih bukanlah pertunjukan untuk dipertontonkan kepada sesama hingga mereka berdecak kagum, melainkan suatu persembahan hidup yang tulus kepada Allah hingga Allah berkenan kepada kita.

16 Juni 2020 Selasa Pekan Biasa XI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Selasa Pekan Biasa XI 16 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 1 Raj 21:17-29
Mazmur Tanggapan Mzm 51:3-4.5-6a.11.16
Bacaan Injil Mat 5:43-48

Saudara saudari yang terkasih,
dengan spontan kita menyukai orang yang berbuat baik kepada kita, dengan mudah kita tersenyum pada orang yang memuji kita. Bagaimana kalau ada orang yang menjelekkan atau bahkan memfitnah kita, apakah kita masih tersenyum kepadanya? Kalau orang memusuhi kita, apakah kita akan mendoakannya seperti yang diminta Yesus dalam Injil hari ini? Kalau ada orang yang telah menghancurkan kita, apakah kita masih bisa memaafkan atau bahkan lebih dari itu, mencintai dan membantunya hingga orang itu berhasil?
Santo Paus Yohanes Paulus II ditembak empat peluru oleh Mehmet Ali Ağca 13 Mei 1981, begitu siuman Paus segera mengampuni Ali Ağca, bahkan setelah kesehatannya pulih dua tahun kemudian mengunjunginya di penjara di Italia. Dalam pertemuan itu pada akhirnya Ali Ağca mencium cincin Paus. Sejak itu terjadi persahabatan, bukan hanya dengan Ali Ağca tetapi Paus dengan ibunya dan dengan saudaranya. Saat Paus Yohanes Paulus II sakit, Ali Ağca menulis postcard dan berdoa untuk kesembuhannya, pada tahun 2005. Orang yang tadinya berniat membunuh, melenyapkan, kini karena sentuhan ampun dan maaf yang tulus, ia ingin agar Paus sehat dan hidup.

Saudara saudari yang terkasih,
lewat Sabda Bahagia Yesus menghendaki kita, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Surga sempurna adanya”. Berbuat baik kepada orang yang  baik kepada kita, bagus! Dan memang harus kita laksanakan. Tetapi apa lebihnya? Orang lain pun melakukan hal yang sama. Kalau setiap murid mengikuti apa yang disampaikan Yesus dalam Sabda Bahagia dan mengikuti praktek apa yang diuraikanNya kemudian, dengan melaksanakan hukum seperti yang dimaksud Allah, bukan sekedar mengikuti apa yang tertera sebagai norma sosial saja, tetapi sungguh menghayati sebagai pegangan spiritual karena kasihnya kepada Allah dan kepada sesama. Dalam soal berbuat baik, kita diajak untuk tidak pilih-pilih, bukan tergantung dari situasi – menyenangkan, kondisi -membahagiakan atau pribadi tertentu, tetapi sejauh mana Roh Allah, Roh Kudus mendorong kita untuk mewujudkan kebaikan itu. Praktek ini tidak biasa, karena umumnya orang berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik. Orang yang tidak mengenal Allah pun - pemungut cukai, orang jahat pun - yang tidak tahu menahu tentang hukum kasih akan berbuat hal yang demikian. Maka para murid diharapkan untuk lebih dari pada mereka itu, “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Inilah perbuatan kontras murid Yesus yang tidak populer dan bukan menjadi preferensi umum. Pilihan ini memberi kesaksian tentang kasih Allah yang tak terbatas, yang memberikan sinar matahari dan hujan kepada siapapun. Kasih di sini bukanlah perasaan yang berubah-ubah tergantung dari situasi dan pribadi, apakah ia itu lawan atau ia kawan, apakah ia itu sahabat atau dia kerabat atau bahkan ia musuh, tetapi karena kehendak yang lahir dari komitmen mengasihi Allah lewat sesama sebagai wujud iman kepada Allah dan aksi nyata kepada sesama, termasuk kepada musuh. Maka kata yang digunakan dalam mendoakan musuh tersebut atau mencintai musuh adalah kata agape, bukan perasaan tetapi suatu kehendak dan komitmen mengasihi.

Saudara saudari yang terkasih,
apakah sekarang ini kita mempunyai musuh? Berapa orang? Orang bilang memiliki seribu sahabat terlalu sedikit, punya satu musuh terlalu banyak. Kita diharapkan tak mempunyai musuh satu orangpun. Itulah yang diminta oleh Yesus untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang berbuat jahat, hingga kita tidak punya musuh satu pun, lain jika kita dimusuhi. Saat kita mendengar atau menyaksikan orang yang jahat kepada kita, musuh kita, mengalami nasib sial, sengsara atau bahkan mati entah karena musibah, penyakit, usia atau karena hukuman, apakah kita puas dan bebas? Maka kita kalau mendengar berita-berita tentang kejahatan-kejahatan, pembunuhan dan lain sebagainya, keluarga korban selalu berkata, “saya ingin, kami ingin dia dihukum sehabis-habisnya, dibunuh, dimatikan … dan lain sebagainya, ada kemarahan dan dendam yang luar biasa. Dan itulah perasaan spontan. Bagaimana murid-murid Yesus diminta? Paus tadi memberi contoh, orang bilang, “itu kan Paus!” Pada tahun yang sama, ada kisah nyata di Amerika tahun 1980an, seorang berusia 16 tahun dengan pacarnya berusia 20 tahun sedang di pinggir pantai, di dalam mobil, sedang menikmati milkshake, tiba-tiba diculik, ditodong, lalu dibawa ke hutan, lalu disiksa. Prianya digorok, ditusuk dan dibunuh dan dia bernama Debby Morris, sekarang namanya, berusia 16 tahun diperkosa beberapa kali dalam kurang lebih 30 jam, sampai akhirnya ia dibebaskan dan pergi dan kemudian penjahatnya ditangkap. Ada buku Dead Man Walking yang dibuat oleh seorang Suster yang mendampingi orang-orang di dalam penjara karena kriminal, akan mati dan mendampingi keluarganya juga. Lalu tiga tahun kemudian, 1998, Debby Morris menulis memoar buku yang bagus, Forgiving Dead Man Walking, di situ ia katakan sangat bagus, luar biasa! Ketika tidak mampu mengampuni, ada kemarahan, ada dendam yang justru menghantui dan memperbudak saya, menghancurkan hidup saya. Tetapi ketika saya mampu mengampuni - akhirnya ia mengampuni memaafkan - ketika saya mampu mengampuni dan memaafkan, bukan hanya luka-luka, bukan hanya dendam, rasa malu pada saat itu, diperlakukan dan dilecehkan secara seksual dan secara manusiawi hilang bersama dengan hilangnya dendam itu. Pada saat saya mengampuni, ada satu orang yang dibebaskan dari penjara, dan orang itu adalah saya sendiri, dibebaskan dari penjara perbudakan dendam yang membuat saya mandul tak dapat hidup.

Saudara saudari yang terkasih,
kasih itu bukanlah perasaan yang berubah-ubah dan tidak tergantung dari situasi tetapi sungguh keluar dari hati yang murni. Saat kita memaafkan, sekali lagi bukan dendam yang hilang, tetapi semua pengalaman buruk kita hilang. Saat kita memaafkan, bukan musuh yang mendapat berkatnya saja, tetapi kita berpartisipasi dalam kekudusan Allah dalam belas kasih seperti yang dibuat oleh Yesus. Saat itulah kita akan terbebas, mengalami sukacita, mengalami damai sejahtera. Saat kita mendoakan, mengampuni orang yang berbuat jahat, musuh kita, bukan hanya akan membawa berkat kepada orang tersebut yaitu pertobatan, tetapi juga terlebih membawa berkat bagi kita, karena kita makin dekat dengan Allah dan di situlah kita menjadi anak-anak Allah.

Monday, June 15, 2020

15 Juni 2020 Senin Pekan Biasa XI


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Senin Pekan Biasa XI 15 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 1 Raj 21:1-16
Mazmur Tanggapan Mzm 5:2-3.5-6.7
Bacaan Injil Mat 5:28-42

Saudara saudari yang terkasih,
ada peribahasa yang berbunyi air susu dibalas air tuba, yang berarti bahwa perbuatan baik dibalas perbuatan jahat. Kita prihatin kalau perbuatan baik ditanggapi secara negatif, bahkan dibalas dengan perbuatan jahat. Itulah kisah seorang anak yang diangkat sepasang suami istri, hingga menjadi putra mahkotanya, tetapi karena konflik, ia membunuh kedua orangtua angkatnya dengan sangat kejam. Lepas dari apa latar belakang konflik yang terjadi, kita mungkin berkomentar: kurang apa kedua orangtua angkatnya terhadap anak itu? Coba jika tidak diangkat anak, mau jadi apa anak itu? Ia disekolahkan di luar negeri dan diberi fasilitas yang dibutuhkan. Bagaimana kalau kita yang dijahati oleh orang lain, apakah kita boleh membalasnya? Bukankah Musa berkata, “mata ganti mata, gigi ganti gigi bahkan tangan ganti tangan, kaki ganti kaki?” Apakah Musa memberikan hukum balas dendam? Musa sebetulnya tidak mengijinkan pembalasan, tetapi pengampunan. Hanya kalau demi keadilan, orang mau membalas dan baru tenang setelah membalas, dibatasi oleh Musa tidak boleh melampaui kerugian yang diterimanya. Jangan sampai putus gigi diganti putus nyawa, putus gigi untuk seseorang diganti putus nyawa seluruh keluarga. Jadi Musa membatasi, jangan membalas, tapi kalau membalas, jangan lebih. Kalau terjadi kecelakaan dan gigi sesamamu ternyata tanggal setengah, jangan dibalas, kalau engkau mau membalas, balas! Jangan lebih lagi, jangan dipukul lagi, jadi tanggal satu, kalau tanggal satu, lebih dari setengah, temannya nanti boleh balas lagi setengah. Jadi hanya memberi batas, jangan sampai pembalasan kita lebih dari apa yang dirugikan. Hukum Musa adalah hukum pembatasan pembalasan berlebihan.
Yang diminta oleh Yesus adalah menanggapi kejahatan tanpa pembalasan apapun tetapi dengan kemurahan hati yang berlimpah. Kejahatan harus ditanggapi dengan kebaikan, untuk itu butuh pengorbanan diri, korban hati, korban perasaan, korban gengsi dan korban lain-lain, yang lahir dari kasih, bukan dari situasi karena takut atau memang karena tidak berdaya. Yesus mengajak mereka berbuat untuk lebih proaktif dalam melakukan kebaikan, bukan sekedar reaktif terhadap apa yang dilakukan orang terhadap kita. Yang diutamakan di sana adalah martabat sebagai manusia yang bukan binatang. Manusia dilengkapi hati nurani dan budi yang cerdas untuk melakukan pertimbangan moral dan spiritual, sebelum berbuat sesuatu. Binatang biasanya reaktif, buntut anjing diinjak, sedang tidur, maka mulut segera menyalak. Tapi manusia harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbuat.
Dalam kerumunan bis yang padat seorang terinjak kakinya. Orang berkata,
“maaf Pak, Pak, maaf sekali, maaf Pak, kaki saya terinjak”.
Luar biasa! Sudah terinjak masih maaf-maaf juga dan yang menginjak malah marah,
“makanya taruh kaki jangan sembarangan, supaya tidak diinjak!”
“Iya maaf Pak, maaf, terima kasih”.
Sikap itulah yang kurang lebih diminta oleh Yesus, ekstrimnya, jika ditampar pipi kanan berikanlah pipi kirimu. Ditampar pipi adalah penghinaan paling besar di depan publik dalam Perjanjian Lama. Orang yang dihina seperti itu, kata Yesus, jangan membalas, beri pipi lain. Kata Yesus, ”berikanlah pipi lain sebagai suatu tanda, coba apa, kenapa engkau menampar, memperlakukan aku di dalam publik, menghina di dalam publik”. Yesus pernah ditampar pipiNya di depan Pilatus, apakah Yesus memberi pipiNya yang lain? tidak! Karena bagi Yesus meski kita harus berkorban, meski kita harus menanggung salib, meski kita harus murah hati dalam menanggapi kejahatan tapi jangan memberikan diri diperlakukan tidak adil, hormatilah martabat diri sendiri. Maka yesus berkata, membela martabat, “jika Aku mengatakan sesuatu yang salah, tunjukkanlah kesalahanKu, tetapi jika yang Kukatakan benar mengapa kamu menampar Aku? Yohanes 18:20. Yesus tidak mengijinkan kita membiarkan diri diperlakukan tidak adil, Ia mengajak kita untuk tidak melakukan kejahatan apapun, walau atas nama keadilan. Tetapi kalau ada seseorang yang tidak diperlakukan adil, maka kita didorong untuk membela keadilan itu. Tetapi jangan sampai untuk membela keadilan, kita melakukan kejahatan. Jangan sampai karena mau membela keadilan, kita melakukan kejahatan yang sama bahkan lebih parah lagi. Yesus sendiri telah memberi contoh bagaimana kejahatan ditanggapi dengan kemurahan hati yang berlimpah, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Di atas salib Yesus mendoakan, memberi berkat bagi mereka yang melakukan kejahatan terhadapNya.

Saudara saudari yang terkasih,
kalau kita diperlakukan tak menyenangkan atau dijahati orang lain, bahkan oleh orang yang kita perlakukan dengan baik, kita kecewa dan marah, wajar! Kadang ada godaan balas dendam bahkan niat untuk lebih menyengsarakan orang lain. Hari ini kita diingatkan untuk bermurah hati secara berlimpah, yaitu berbelas kasih yang mengatasi keadilan. Bersyukurlah kepada Allah kalau selama ini kita telah melakukan apa yang diminta Yesus, yaitu tetap berbuat kasih sebagai tindakan proaktif murid Yesus yang bermartabat, sebagaimana telah dicontohkan Yesus. Kalau diberi air tuba marilah kita beri susu murni, kalau orang membuat kita iba, berilah senyum kasih sejati.

Sunday, June 14, 2020

14 Juni 2020 Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus 
14 Juni 2020
Gereja Santo Petrus Katedral Bandung


Bacaan I Ul 8:2-3.14b-16a
Mazmur Tanggapan 147:12-13.14-15.19-20
Bacaan II 1 Kor 10:16-17
Bacaan Injil Yoh 6:51-58

Saudara saudari yang terkasih,
pada hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tubuh dan darah adalah anasir fisik yang paling berharga bagi kita. Tubuh dan darah adalah kita sendiri, yang tanpanya kita tidak ada. Yang paling berharga yaitu Tubuh dan Darah Yesus sudah dikorbankan di salib dan kini dianugerahkan kepada kita secara sakramental dan riil dalam roti dan anggur agar kita bersatu dan menjadi serupa dengan Kristus.
Ada orang bertanya, “mengapa istri saya sering misa, bahkan dulu setiap pagi, tapi hidupnya tidak berubah?” Lain lagi pertanyaan, “mengapa suami saya yang prodiakon kok masih kasar? Lalu apa efek komuni yang diterima dan dibagikannya”.

Saudara saudari yang terkasih,
Musa mengingatkan umatnya akan penyertaan Yahwe yang setia dan penuh belas kasih dengan memberikan manna dari Surga untuk menjamin mereka agar mereka hidup. Karena betapa besar kasih Allah pada manusia, Ia mengutus Putra TunggalNya yang terkasih ke dunia. Dialah roti hidup sejati yang turun dari Surga yang lebih mulia dari manna. Yesus menghendaki ada Ekaristi sebagai perjamuan Tubuh dan DarahNya agar para murid bersatu denganNya dan hidup karenaNya. Maka Perayaan Ekaristi adalah puncak dan sumber iman kita. Para murid atau para pendengar pada waktu itu tidak percaya bagaimana Yesus memberikan dagingNya untuk dimakan dan darahNya untuk diminum. Ini sesuatu yang membuat mereka bertengkar, bahkan akhirnya beberapa pergi meninggalkan mereka. Yesus sangat tegas, tidak mau kompromi dalam soal ini, iya - iya, tidak - tidak. Yesus meyakinkan mereka bahwa apa yang dikatakannya bukanlah bahasa simbol atau metafor, tetapi sungguh apa adanya.
Kita ingat peristiwa Yesus berbicara dengan Nikodemus pada Yohanes 3:45, ketika Yesus berkata “barang siapa tidak dilahirkan kembali, ia tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga”, lalu Nikodemus berkata, “bagaimana orang yang sudah tua dilahirkan kembali? Haruskah ia masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali?” Tapi Yesus berkata, ”tidak! Barang siapa tidak dibaptis oleh air dan roh, ia tidak akan masuk Kerajaan Surga”. Dengan kata lain Yesus berkata, “tidak! yang Kukatakan bukan bahasa sesungguhnya, yang Kukatakan adalah bahasa metafor, bukan dilahirkan masuk lagi, bukan! Tapi dilahirkan oleh air dan Roh Kudus”. Tapi dalam Injil hari ini Yesus berkata, “tidak! Aku berkata sungguh-sungguh!” Bahkan ia berkata, “sungguh! Betulan, bahwa barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup kekal”. Bukan metafor bukan simbol, tapi “sungguh dagingKu dan darahKu, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman. Siapa saja yang makan  dan minum darahKu, ia tinggal di dalam aku dan aku di dalam dia. dengan demikian siapa saja yg memakan Aku, ia akan hidup oleh Aku”.
Apa yang dikatakan oleh Yesus menjadi nyata dalam pengalaman iman Paulus dalam Bacaan Kedua, dalam mereka yang ambil bagian, ada aktif, ambil bagian, partisipasi dalam Tubuh dan Darah Kristus akan mengalami diri communio, persatuan, satu anggota, satu gereja, satu keluarga. Kesatuan mistik dengan Tuhan dinyatakan secara kongkrit dalam persatuan epis dengan sesama. Maka partisipasi menyantap Tubuh dan Darah Kristus tampak nyata dalam kontribusi membangun hidup menggereja dan terlibat dalam masyarakat.

Saudara saudari yang terkasih,
roti dan anggur melalui kata-kata transformatif formatif Imam dalam pribadi Kristus yang berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam misa, bukanlah simbol, tetapi kehadiran nyata Kristus seutuhnya: Tubuh, Darah, Jiwa dan KeilahianNya dalam persatuan dengan Allah Tritunggal. Maka dalam Doksologi diangkat dalam kesatuan Tritunggal. Bukankah ini anugerah luar biasa yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dalam jaman apapun, kecuali kepada kita, sejak Perjamuan Malam Terakhir. Sejak saat itu Kristus yang bangkit hadir, Putra Allah berkenan ada di antara kita secara nyata. Sakramen Mahakudus communio yang paling suci di dunia ini. Ia adalah Tuhan sendiri, luar biasa! Kita diperkenankan bukan hanya menyentuh tetapi bersatu denganNya saat menyambut komuni. Ingat kisah seorang wanita yang duabelas tahun sakit pendarahan? Ia berkata dengan penuh iman, “asal kujamah saja jumbai jubahMu, aku akan sembuh!” Ia sembuh dan Yesus berkata, “teguhkanlah hatimu, hai anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau”(Matius 9:22). Tuhan yang sama yang jubahNya disentuh, sekarang bukan hanya membiarkan jubahNya untuk kita sentuh, tetapi TubuhNya untuk kita pegang dan santap, sehingga Ia bersatu dengan kita dan kita akan menjadi tempatNya yang kudus, TabernakelNya yang kudus. Maka seharusnya hidup kita kudus, “imanmu meneguhkan engkau, sembuhlah!” Maka mintalah, sebelum kita menyambut komuni, “ya Tuhan saya tidak pantas, Tuhan datang kepada saya”, minta kesembuhan, “bersabdalah saja maka saya akan sembuh”. Kurang apa lagi? Kalau dengan komuni saja kita tidak mempan, bertemu dengan Tuhan saja kita tidak sadar-sadar, lalu dengan apa lagi kita harus bertobat? Siapa dan apa lagi? Tuhan sendiri yang hadir sudah dekat dengan kita, ada di depan kita.
Santo Maximilianus Kolbe berkata, “kalau malaikat bisa iri hati, ia akan iri hati kepada kita manusia, karena kita menerima Tubuh Kristus, memegang Tuhan sendiri, menyantap Daging Kristus, Tuhan yang utuh”. Itu juga yang ditulis oleh Santa Faustina, “momen yang paling khusyuk dalam hidup saya adalah saat saya menerima komuni suci. Jika malaikat dapat iri, mereka akan iri dua hal, salah satunya adalah menerima komuni suci, yang kedua karena manusia dapat menderita, sebagaimana Yesus dapat menderita, malaikat tidak”.
Ada seorang Ateis berkata, menyindir, tapi sindirannya bagus untuk kita renungkan. Ia berkomentar begini, “kalau orang Katolik percaya bahwa komuni itu Tubuh Kristus yaitu Tuhan yang mulia yaitu Tuhan yang utuh, yang diajarkan oleh Gereja Katolik, pasti mereka akan menyambut Tubuh Kristus sambil berjalan berlutut, karena Tuhan yang ada di depannya”. Maka orang Katolik seharusnya menyiapkan diri sekudus-kudusnya, sekhusyuk-khusyuknya menyambut Tubuh Kristus, bukan culang cileung, lalu udah di depan, amin, lalu disambut, lalu hai hei hai hei, lalu kaget, lalu oh, bukan amin juga, tapi ia menyebut oh. Maka ini kita butuh persiapan, kadang-kadang kita juga …
Hari ini kita diteguhkan kembali, para Imam juga, luar biasa! Dengan kata-kata formatif, permohonan Roh Kudus dalam Tubuh Kristus, inilah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, “inilah tubuhKu”, luarbiasa anugerah yang diberikan kepada para Imam, mudah-mudahan ini juga makin meneguhkan, hari ini, panggilan para Imam, umat kita, kita semua juga, luar biasa! Tuhan menawarkan diriNya sendiri kepada kita. Tidak ada karunia yang lebih besar daripada Ekaristi dalam hidup kita sekarang ini.
Mudah-mudahan kita sungguh disadarkan kembali, Yesus menyatakan diriNya secara riil dalam roti dan anggur, yang tanpaNya murid Kristus akan mati, akan kehilangan identitas dan kehabisan aktivitasnya. Keadaan Kristus dalam Tubuh dan Darah, dalam roti dan anggur itu tak terbagi, utuh, roti atau anggur utuh, Tubuh dan Darah utuh, jadi apa yang disantap Imam, Tubuh dan Darah Kristus itu utuh, sama dengan apa yang disantap oleh umat, Tubuh Kristus saja. Jangan berkata, “aduh! Kurang lengkap ini, Yesusnya setengah, tidak utuh”. Dalam bentuk kecil remah rotipun, sejauh itu masih bentuk roti, masih Tubuh Kristus. Maka itu disantap pelan-pelan, jangan digigit kayak menggigit donat, bukan! Sambut pelan-pelan, dibiarkan hancur oleh air ludah dan ditelan masuk dengan hormat, dan pada saat hilang, sudah bukan Tubuh Kristus lagi, hanya dalam rupa roti itu menjadi Tubuh Kristus.
Saat komuni kita tidak hanya pasif menerima, maka alasan tadi, pertanyaan “mengapa tidak berubah? Suami saya tidak berubah, istri saya tidak berubah, saya komuni tidak berubah”. Karena mungkin saat menerima komuni kita jangan hanya pasif menerima, kasih-menerima, tetapi juga aktif membuka diri, aktif bersekutu, aktif masuk dalam kehidupan Yesus, bersatu dengan Tuhan, sebagaimana Ia menawarkan diri,  hingga kita mengalami apa yang dijanjikanNya, yaitu hidup kekal. Kesadaran aktif ini, partisipasi, ambil bagian, inilah yang membuat kita makin hormat terhadap Sakramen Maha Kudus. Ada begitu banyak mukjizat Sakramen Maha Kudus. Ada bukunya: Mukjizat-Mukjizat Sakramen Maha Kudus.
Maka kita makin hormat, makin rindu menyambut Tubuh Kristus dan makin kudus dalam hidup sehari-hari dengan menghadirkan Kristus melalui perbuatan kasih. Di situlah kita akan terperangah mengalami, bagaimana komuni menyambut Tubuh Kristus itu ada efek nyatanya dalam hidup kita.

Saturday, June 13, 2020

13 Juni 2020 Peringatan Wajib Santo Antonius dari Padua


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Peringatan Wajib Santo Antonius dari Padua 
13 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 1 Raj 19:19-21
Mazmur Tanggapan Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10
Bacaan Injil Mat 5:33-37

Saudara saudari yang terkasih,
kita semua pernah bersumpah baik secara langsung ataupun diwakilkan, misalnya yang paling awal adalah janji baptis bagi kita yang dibaptis sewaktu bayi. Setelah itu ada banyak peristiwa di dalam hidup kita yang disertai oleh sumpah, baik formal maupun informal, baik publik, privat atau kalangan terbatas. Entah sumpah pekerjaan, jabatan atau jalan hidup, seperti janji perkawinan, kaul religius. Sumpah diperlukan karena ada kecenderungan orang untuk tidak menyatakan dengan terus terang apa yang di dalam hati, serta tidak mau dan tidak mampu melakukan dengan gamblang apa yang dituntut. Orang bersumpah di pengadilan di bawah Kitab Suci, tetapi kadang-kadang kita mendengar atau meragukan sumpah itu.
Ada satu peristiwa dengan Santo Antonius, ketika itu di Lisbon, abad 13, tetangga ayah dari Santo Antonius membunuh. Lalu waktu dicari ternyata jenazahnya dikubur di pekarangan ayah Santo Antonius. Maka ayahnya, Martinus, didakwa pembunuhan itu. Tidak bisa ada yang membuktikan, kecuali jenazah itu ada di pekarangannya. Maka dengan kuasa Allah Santo Antonius mendapat karunia mengetahui peristiwa itu. Lalu ia meminta ijin dari pimpinannya dari Padua pergi ke Lisbon malam itu, yang jaraknya 1930 km. Pagi hari ia sudah ada di Lisbon, di pengadilan. Walaupun mereka sudah disumpah, mereka tetap menyatakan bahwa yang membunuh itu adalah ayahnya. Akhirnya Santo Antonius meminta jenazah itu dihadirkan, dan dengan mukjizat, jenazah itu bangun dan berbicara serta menunjuk dan mengatakan siapa yang membunuhnya. Ayahnya dibebaskan, pada saat itu juga, dan jenazah setelah itu meminta absolusi dari Santo Antonius dan kemudian orang yang sudah dihidupkan kembali itu mati lagi.
Sumpah, sekalipun orang sudah disumpah dengan Kitab Suci ternyata orang masih bisa mengkhianati. Maka ada orang berkata, kalau semua janji memang bisa dipegang, buat apa ada meterai 6000, justru meterai 6000 itu untuk meyakinkan bahwa apa yang ditulisnya itu benar walaupun kadang-kadang tidak benar juga.

Saudara saudari yang terkasih,
keprihatinan itulah yang dilihat Yesus. Salah satu akar lain yang mengganggu kehidupan komunitas murid Yesus adalah sikap tidak terus terang, yaitu kehendak untuk menyembunyikan sesuatu dengan tujuan tertentu bahkan dengan niat jahat. Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa janji itu tidak perlu, tetapi justru mengajak orang untuk  melihat fondasi dari janji yang sejati, yaitu hati yang jujur diterangi Roh Kudus. Kalau orang tidak jujur dan tidak mau dibimbing oleh Roh Kudus, untuk apa berjanji? Karena hanya akan menjadi upacara seremonial atau ibadat ritual belaka, yang tidak mempunyai efek positif. Misalnya anak berkelahi disuruh minta maaf, ia tidak mau berdamai, tapi karena dipaksa, minta maaf, damai tapi gersang, bersalaman tetapi tetap bermusuhan. Itulah kelakuan orang munafik, mulut berkata ya, tapi hati berkata tidak. Itulah perbuatan penipu, mulut berpuisi indah, badan berpakaian perlente bahkan disertai janji dengan tetes air mata buaya, tapi berdusta dan pikiran mendua. Orang mempromosikan sesuatu dan menjanjikan untuk membantu, tetapi saat dibutuhkan, ingkar janji. Maka kata Yesus, “jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat”. Iblis itulah yang membuat orang mencla mencle, iya - iya, tidak terus terang, hingga hidup itu menjadi gelap.
Alkisah suatu hari seorang suami ditanya istrinya,
“Pak, uang THR sudah semua pak? sudah diberikan?”
“Lha kemarin yang diberikan?”
“Itu sudah semua, Pak? Kok segitu? Bukankah harusnya naik?
“Iya … udah segitu”.
“Tidak ada uang tambahan lain, Pak?”
“Tidak ada”.
“Betul pak?”
“Eee …”.
“Betul tidak?”
“Eee…”.
“Betul nggak?”
“Iya, iya betul segitu. Lalu apa lagi?”
Lalu kata istrinya, “lalu uang yg di laci di bawah buku itu apa? Yang ditumpuk buku itu?”
“Ya itu uang sial!”
“Lha kok uang sial?”
“Iya, sudah disembunyikan, masih ketahuan juga”.

Saudara saudari yang terkasih,
kita diajak membebaskan diri dari kebohongan, dari pengaruh iblis. Kita diminta menyerahkan diri pada bimbingan Roh Kudus yang selalu berkata baik dan benar, iya – iya, tidak – tidak. Berkata terus terang agar hidup terang terus. Maka kalau seorang sudah berkata iya – iya, tidak – tidak, di bawah terang Roh Kudus, maka janji itu menjadi bernilai, sumpah itu menjadi luhur dan mulia karena akan terlaksana.

Saudara saudari yang terkasih,
sumpah atau janji apa yang sudah kita ucapkan, baik resmi ataupun tak resmi? Apakah kita termasuk orang yang memegang janji atau sumpah tersebut? Adakah janji yang sudah kita abaikan? Yesus mengajak kita untuk melakukan apa yang sudah kita janjikan. Jika janji itu sudah baik dan benar, yaitu kalau janji itu dibuat karena dorongan Roh Kudus, bukan karena hasutan roh jahat atau desakan roh aku, egoisme. Untuk itulah Yesus menegaskan, jangan main-main dengan sumpah, apalagi bersumpah demi Bait Allah. Yang paling baik adalah  berkata dengan jujur, terus terang, dalam soal hidup moral dan spiritual. Jangan sampai kita menggunakan nama Allah untuk melakukan kejahatan yang dibalut dengan indah lewat janji atau sumpah, bahwa saya berkata demi Allah dan demi Kitab Suci.
Marilah saudara saudari, berkata terus terang sebagai murid Kristus sesuai terang Roh Kudus supaya hidup kita sungguh terang terus dan menjadi terang dunia.

Friday, June 12, 2020

12 Juni 2020 Jumat Pekan Biasa X


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Hari Jumat Pekan Biasa 12 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I 1 Raj 19”9a.11-16
Mazmur Tanggapan Mzm 27:7-8a.8b-9abc.13-14
Bacaan Injil Mat 5:27-32

Saudara saudari yang terkasih,
ada peribahasa yang kita sudah ketahui baik, “dari mata turun ke hati”, yang bisa diartikan karena orang melihat, maka jatuh cinta. Ada orang yang tidak setuju, kalau begitu cinta hanya untuk orang  cantik dan tampan saja, karena biasanya orang tertarik pada yang indah dan gagah hingga tersentuh hatinya, padahal ada orang yang memiliki inner beauty, kecantikan rohani daripada beautiful body, kecantikan badani, hingga orang bisa klepek- klepek jatuh cinta padanya walaupun tidak tampan, tidak cantik, tetapi memiliki kecantikan rohani. Untuk itu seharusnya peribahasa itu menjadi “dari hati turun ke mata” atau “dari hati naik ke mata”. Apa yang ada pada jiwa, menggerakkan organ fisik seseorang untuk mewujudkan pikiran - cipta, perasaan - rasa dan kehendak. Itulah pesan Yesus dalam Injil hari ini, bahwa kita harus menguduskan hati, karena hati yang tak kelihatan adalah sumber yang menggerakkan organ yang kasat mata.

Saudara saudari yang terkasih,
ada seorang suami yang bertanya, “apakah saya berdosa, kalau saya menyukai istri teman saya, hanya dalam hati, tak pernah diungkapkan, tidak lebih dari itu? Bukankah saya tidak menyeleweng walau kadang membayangkan dia? Saya sungguh mencintai istri saya dan keluarga saya, kami hidup harmonis”. Lain lagi cerita, ada istri yang bertanya, “saya sangat sayang pada keluarga, saya harmonis dengan suami saya, tapi kenapa saya sering ingat pacar saya?” Silakan saudara saudari renungkan dan jawab sendiri pertanyaan itu.
Persoalan ini menjadi perhatian Yesus saat mengajarkan betapa luhur dan mulianya perkawinan karena menuntut kemurnian hati. Kesetiaan badan itu bagus dan harus, tapi ada jauh yang lebih penting, yaitu kesetiaan rohani. Kesetiaan badani bisa diganggu oleh kecantikan fisik, tapi kesetiaan batiniah tak tergoyahkan oleh keindahan tubuh apapun karena di dalamnya ada inner beauty. Orang bisa bertahan untuk tidak berzinah sesuai dengan norma sosial, tetapi orang yang sama bisa melanggar norma spiritual yaitu melupakan kemurnian hati pada pasangan yang sudah menjadi komitmen yang diucapkan, bukan hanya di depan umat tetapi juga di hadapan Allah. Kalau orang sudah tidak murni hatinya tetapi dipengaruhi, bahkan dikendalikan oleh nafsu seksual, walaupun ingat akan komitmen dan sadar akan imannya, bisa mencari cara untuk mewujudkan nafsu tersebut. Entah melalui perasaan: senang kalau bertemu, mendapat WA, bete kalau ada di rumah kalau tak jadi ke rumah, WA tak dijawab atau dalam pikiran: lega kalau memikirkannya, marah kalau ditanya oleh pasangan hidup, suami atau istri, atau melalui kehendak: puas kalau bisa memenuhi nafsu dan atau menjadi garang kalau merasa dihambat. Maka Yesus berkata, “kamu telah mendengar firman jangan berzinah!” Dulu orang fokus pada tindakan penyelewengan fisik, apa yang kelihatan, ada yang lebih berbahaya, yaitu akarnya, hati yang tidak kelihatan, yang dikuasai oleh nafsu seksual. Ingat kisah Daud ketika melihat Betsyeba, mata, tetapi yang lebih menjadi masalah, hatinya terlebih dahulu. Yesus bersabda, “maka itu Aku bersabda, setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hati”. Di situlah pasangan suami istri pun dituntut kaul kemurnian dalam perkawinan. Bukan soal hanya tidak berzinah, tidak menyeleweng, dan tidak ada orang ketiga, tetapi apakah hati, budi, materi dan energi yang telah dijanjikan untuk keluarga itu terbagi sebagai biaya, bukan donasi, biaya, untuk memuaskan nafsu seksualnya. Entah sekedar melihat, entah berjumpa atau malah menyentuh yang bukan pasangan hidupnya. Maka Yesus dengan tegas sekali berkata, “kalau organ fisik tidak dapat dikendalikan oleh hati dan budi, hingga mencelakakan hidupmu, lebih baik organ  itu disingkirkan!” Yesus hanya mau menekankan betapa penting, luhurnya perkawinan itu.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus mengajak kita mempunyai hati yang kudus, agar pikiran sehat serta mampu mengontrol organ tubuh kita dan mengendalikan hidup sesuai dengan iman dan komitmen kita.

Saudara saudari yang terkasih,
kemurnian hati tak mungkin dimiliki tanpa relasi dengan Allah, sumber kekudusan itu. Orang yang makin dekat dengan Tuhan, makin kudus, makin murni, maka ia akan makin setia dalam komitmen dan iman. Artinya ia pun akan setia pada pasangan hidupnya, dalam perkawinan atau setia pada gereja dalam hidup selibatnya, bukan karena sudah berjanji secara publik dalam sakramen perkawinan atau sakramen tahbisan atau kaul religius, tetapi karena kaul kemurnian hati pada Allah yang ditunjukkan dalam kesetiaan, entah pada keluarga atau pada gereja. Di situlah hati yang kudus menentukan kesetiaan kita, kemurnian dalam membangun keluarga kudus atau dalam melayani gereja secara total. Kemurnian hati ini yang dibangun lewat doa setiap hari adalah keutamaan hidup Kristiani dalam soal relasi. Keutamaan bukan soal sekedar tindakan baik yang dapat dilihat orang, tetapi sesungguhnya keutamaan adalah hati yang kudus yang diketahui oleh Allah.

Thursday, June 11, 2020

11 Juni 2020 PW Santo Barnabas


Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Peringatan Wajib Santo Barnabas 11 Juni 2020
Kapel Santa Maria Bunda Yesus
Wisma Keuskupan Bandung


Bacaan I Kis 11:21b-26; 13:1-3
Mazmur Tanggapan Mzm 98:1.2-3ab.3c-4.5-6
Bacaan Injil Mat 10:7-13

Saudara saudari yang terkasih,
kita sering merindukan kedatangan orang yang memberi energi positif, suasana ceria dan semangat hidup. Dengan kata lain kita mengharapkan pribadi yang membawa berkat, meneguhkan dan menyemangati kita untuk bangun kembali saat jatuh, untuk berusaha lagi saat gagal, untuk menemani saat kesepian dan memberi harapan saat putus asa, serasa menemui jalan buntu. Itulah hidup Santo Barnabas, yang arti namanya adalah anak penghiburan, anak yang memberi semangat, yang perkataan dan perbuatannya membuat orang hidup dan mengalami terberkati. Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Ia seorang kaya, baik rohani maupun materi, hingga mampu menghibur orang dengan nasehat rohani dan donasi materi. Ia menjual miliknya untuk komunitas dan memberikan dirinya untuk pelayanan. Ia menerima Paulus yang bertobat dan membawanya kepada para rasul. Ia diutus para rasul ke Antiokhia membawa sukacita, hingga mereka untuk pertama kali disebut Kristen. Barnabas menjemput Paulus di Tarsus dan membawanya ke Antiokhia. Barnabas yang terhormat dan terpandang di kalangan umat, hingga selalu disebut pertama, Barnabas dan Paulus. kalau ikuti kisah-kisah para rasul, Barnabas Paulus, Barnabas Paulus. Ia membimbing Paulus hingga Paulus menjadi lebih besar dari Barnabas, dan akhirnya pada suatu kesempatan, dalam Kisah Para Rasul 13:42, sejak Paulus berkotbah di Antiokhia Pisidia, Paulus menjadi lebih besar daripada Barnabas, dan sejak itu disebut Paulus dan Barnabas, Paulus dan Barnabas. Saat mengecewakan Paulus, Markus ditinggal oleh Paulus, tetapi Barnabas datang menghibur, meneguhkan dan akhirnya membawa dan menemani Markus. Itulah Barnabas, anak penghiburan, yang membuat orang menjadi besar, yang membuat orang merasa terberkati.

Saudara saudari yang terkasih,
Yesus mengutus para murid untuk praktek menjadi anak penghiburan yang membagikan berkat secara cuma-cuma, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan-setan. Ini adalah kiranya praktek perutusan pertama yang membuat murid bangga dan merasa dipercaya. Bisa jadi mereka sebagai orang-orang yang baru, belum tiga tahun dengan Yesus, merasa gaya atau berlagak karena akan unjuk kuasa yang bisa membuat mereka populer. Bayangkan mukjizat-mukjizat itu  bisa mereka lakukan, siapa yang tidak akan kagum bahwa mereka bisa membuat mukjizat. Maka agar mereka tak jatuh pada kesombongan diri, Yesus menekankan pentingnya percaya pada penyelenggaraan Ilahi, agar orang sadar bahwa seandainya berhasil, kesuksesannya bukanlah semata hasil jerih payah manusia, tetapi merupakan berkat Allah. Maka dalam perutusan, Yesus meminta mereka untuk membawa bekal secukupnya, tidak berlebihan, agar mereka tetap mengandalkan kekuasaan Allah.

Saudara saudari yang terkasih,
situasi hidup kita sering memaksa kita untuk berpikir serasional mungkin, berencana seprofesional mungkin. Maka kita mengandalkan sarana duniawi untuk mengejar cita-cita dan mimpi kita, jika tidak hati-hati, kita bisa terjebak pada urusan duniawi belaka, hingga lupa pada penyelenggaraan Ilahi. Dalam keadaan itu kita mudah tergelincir, hingga mengejar keberhasilan tanpa peduli pada nilai dan etika Kristiani. Mencari keuntungan yang membabi buta tanpa malu pada sesama dan tanpa takut kepada Tuhan.
Semoga harta dan sarana serta kepintaran dan keahlian kita, yang kita miliki, kita gunakan sesuai dengan maksud Allah demi kesejahteraan manusia dan kemuliaan Allah. Di situlah kita bisa menjadi anak penghiburan, seperti Barnabas yaitu orang yang menjadi berkat bagi sesama. Marilah kita berusaha keras tetapi juga berdoa dengan tekun, agar tak lupa diri bahwa apa yang kita miliki dan nikmati adalah berkat Allah yang juga harus membawa penghiburan bagi sesama.

5 Juli 2020 Minggu Pekan Biasa XIV

Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC Misa Hari Minggu Biasa XIV 5 Juli 2020 Gereja Santo Petrus Katedral Bandung video :  Min...